Surga dan neraka sampai kapan pun adalah dua hal yang bertolak belakang. Surga berada di langit yang tinggi, neraka berada jauh di bawahnya. Surga penuh dengan keindahan, neraka penuh dengan kengerian. Surga diperuntukkan bagi manusia yang suci, neraka bagi manusia pendosa. Surga merupakan tempat tinggal malaikat, neraka merupakan tempat tinggal setan.
Di titik pertemuan kedua tempat yang saling menolak itu, terdapat dunia.
Konon satu-satunya tempat dimana malaikat dan setan bisa saling bertemu adalah di dunia manusia, dunia kehidupan. Terkadang mereka saling memperebutkan satu kehidupan. Setan berusaha membujuk manusia untuk melakukan dosa agar bisa menemaninya di neraka kelak, sementara malaikat berusaha menarik sang manusia yang tidak tahu apa-apa itu ke jalan yang benar. Terkadang malaikat yang menang, tapi bukan berarti setan selalu kalah. Kalau kata-kata di film pahlawan super adalah “kebaikan selalu menang”, maka tidak selalu itu yang terjadi dalam persaingan malaikat dan setan. Jika setan menang, ia akan tertawa keras dan mengejek malaikat habis-habisan. Kalau malaikat menang, ia akan tersenyum penuh kemenangan ke arah setan dan memancarkan sinar sucinya untuk mengintimidasi musuhnya.
Suatu ketika, ada satu malaikat dan setan yang bertemu di suatu tempat. Mereka sama-sama tengah memperhatikan seorang manusia yang tengah termanggu di tepi jalan tanpa aktivitas. Bisa dipastikan kalau malaikat dan setan itu akan memulai pertarungan pada orang tersebut.
“Hari yang cerah?” sapa Setan saat ia melihat kedatangan malaikat ke dekatnya. Ia menyunggingkan senyum mengejek khas ala setan pada makhluk penghuni cahaya itu.
“Ya.” jawab Malaikat singkat.
“Suasana yang mendukung untuk melakukan ‘pertempuran’?” ujar Setan lagi, berusaha meneliti malaikat yang ada di hadapannya seraya bersandar pada sebatang pohon besar.
“Hmm.” balas Malaikat.
“Aku pasti menang kali ini.” ledek sang Setan.
“Terserah.” gumam Malaikat pendek.
Setan menaikkan alis heran. Setahunya, biasanya malaikat itu selalu penuh dengan cahaya suci yang mengintimidasi setan. Dan bagi setan, itu adalah perwujudan dari kesombongan malaikat, kalau saja malaikat itu punya sifat seperti itu. Sayangnya, malaikat adalah makhluk cahaya yang hanya mempunyai sifat baik dan patuh pada Tuhan, tak mungkin mempunytai sifat sombong atau sifat jelek yang lainnya.
“Kelihatannya kau kurang bersemangat.” interogasi Setan.
“Aku lelah.” aku Malaikat, walaupun ekspresi wajahnya yang beku sama sekali tak menunjukkan kesan lelah.
“Lelah?” tanya Setan.
Malaikat mengangguk sekali sebelum menunjuk manusia yang akan mereka ‘perebutkan’. Manusia itu masih tetap bengong seperti semula. Tak melakukan apa-apa kecuali memandang kosong pada jalanan di hadapannya. Setan mengikuti arah yang ditunjukkan Malaikat.
“Lihat manusia itu,” ujar Malaikat. “lihat apa yang dikerjakannya. Bengong memikirkan masalah duniawi. Kenapa dia tidak beribadah saja menyembah Tuhan dan meminta pertolongan-Nya? Malah bengong begitu. Kadang-kadang aku masih terus bingung kenapa Tuhan sangat menyukai makhluk penuh dosa yang bahkan jarang mengingatnya itu? Membiarkan mereka menduduki dan merusak bumi. Mereka sangat jarang mengingat-Nya! Hanya 5 kali sehari mereka mengingat-Nya, itu pun hanya sebagian dari sebegitu banyak makhluk tak berguna itu di muka bumi ini. Kenapa Tuhan sangat menyukai mereka? Padahal kami, para malaikat, adalah abdi-Nya yang setia, yang tercipta dari kesucian dan kemurnian sejati tanpa dosa setitik pun, yang selalu menyembah dan bertasbih pada-Nya. Tapi lihat, kami malah diperintahkan untuk bersujud pada makhluk tak berguna itu di awal penciptaan mereka. Dan sekarang? Kami malah disuruh menuntun makhluk-makhluk tidak berguna itu ke jalan kebenaran. Mengingatkan mereka jika mereka melakukan kesalahan, menyuruh mereka kembali mengingat kreator mereka. Kami kan bukan – ah, apa itu bahasa manusianya? – baby sitter – ya, itu. Baby sitter – mereka!”
Ekspresi Setan berubah jijik. Ia menjulurkan lidahnya seperti ingin muntah. Ia lalu mengibas-ngibaskan tangannya ke arah Malaikat. “Aaaaaaah, hentikan ceramahmu itu. Jangan memakai bahasa cahaya untuk bicara pada penghuni kegelapan! Nggak ngerti! Makanya jangan mengabdi sesetia itu. Kan jadinya kau yang bosan sendiri. Cobalah jadi sepertiku. Aku mengerjakan tugasku – mencari teman untuk kubawa ke neraka – tanpa pernah merasa bosan. Aku malah senang. Setiap kali berhasil, aku akan mendapat teman baru untuk kuajak main.”
Malaikat tersenyum samar. “Kalau aku jadi sepertimu, aku akan terlempar ke kegelapan.”
Setan balas nyengir. “Dan aku akan dapat teman baru.”
“Seharusnya kau tahu kami,” ujar Malaikat. “Kami adalah makhluk tanpa dosa penghuni surga. Tak mungkin kami tergelincir ke dalam kegelapan.”
Setan manyun tak suka. “Huh, dasar makhluk penuh berkah, penghuni cahaya, yang sombong! Sudah kukira takkan bisa mengajak kalian ke tempat kami. Kalian terlalu angkuh dengan cahaya suci kalian. Kita takkan pernah bisa berteman.”
“Kami tak mempunyai sifat angkuh,” balas Malaikat. “semua sifat buruk seperti itu hanya ada di pikiran kalian para penghuni kegelapan yang selalu menjadi sisi negatif dari kami. Karena semua sifat buruk kalian itulah, kalian selamanya takkan pernah dinaungi cahaya setitik pun.”
“Bah! Aku tak perlu cahaya!” sergah Setan. “Aku pasti akan memenangkangkan pertarungan kali ini. Manusia itu akan menjadi temanku!”
Dengan itu Setan segera berlari ke arah menusia-tak-ada-kerjaan itu dan mulai membisikkan kata-kata rayuan di telinganya. Setan itu memberi saran pada manusia itu agar ia memakai waktunya untuk bersenang-senang melupakan segala penderitaannya. Ia memberitahukan pada manusia itu bagaimana rasanya melupakan segala penderitaannya dengan cara mabuk-mabukkan, apa saja keuntungan yang akan diperolehnya dengan bermain judi, bagaimana enaknya berzina dengan perempuan yang lebih cantik daripada istrinya yang hanya seorang kampungan buruk rupa, dan sebagainya.
Mabuk oleh kesenangan penuh dosa ala dunia yang dibisikkan sang Setan, manusia itu pun tergugah. Ia segera beranjak dari posisi termenung statisnya dan segera pergi ke sebuah kafe remang-remang untuk minum-minum ditemani gadis cantik di sana. Ia melupakan segalanya. Melupakan penderitaannya, melupakan keluarganya, dan yang lebih penting melupakan Tuhannya. Ia tak peduli lagi pada apapun dan telah sepenuhnya tercebur ke dalam jurang kegelapan.
“Aku yang menang.” Setan tertawa penuh kemenangan ketika ia melihat malaikat di seberangnya, memandangi manusia yang mereka perebutkan dengan tatapan jijik.
“Kenapa di dunia ini ada makhluk senista ini?” geram Malaikat.
Setan menggelayuti pundak manusia yang tengah bersenang-senang itu dan nyengir iblis ke arah lawannya. “Karena kau sedang lelah, maka serahkanlah manusia ini padaku. Biar aku yang mengurusnya. Kau cukup memperhatikan dari jauh dan lihat bagaimana manusia ini akan menjadi temanku.”
“Tak akan.” gumam Malaikat tenang. “Selelah apa pun aku, tugas harus dilaksanakan.”
Malaikat mencoba untuk membujuk manusia untuk kembali ke jalan kebaikan. Ia terus membisikkan kata-kata tentang keimanan kepada manusia itu, tentang hari akhir, tentang penciptanya, tentang dosa, dan tentang ganjaran bagi para pendosa.
Melihat manusia itu sedikit bergeming, Setan merasa ia akan kalah jika ia diam saja. Dengan itu ia segera kembali membisikkan kenikmatan duniawi di telinga manusia itu, berusaha mengenyahkan janji-janji kenikmatan surgawi yang dibisikkan oleh lawan abadinya.
Tapi sepertinya putaran takdir berkata lain. Karena tadi Setan sudah menang, maka kali ini sepertinya Tuhan membiarkan Malaikat untuk menang. Manusia itu berdesir ketakutan dan langsung keluar dari kafe itu dengan teriakan minta ampun dan pertobatan bergema kencang dalam hatinya. Bahkan Malaikat sendiri, yang membisikinya jalan menuju kebaikan, merasa amat bingung kenapa manusia yang diincarnya kali ini bisa begitu cepat berubahnya. Apa bisikannya sebegitu hebatnya hingga bisa mempengaruhi manusia dengan begitu cepat?
“Yah… kali ini kamu yang menang, ya.” desah Setan kecewa.
“Hmm.”
Setan mengerling malaikat curiga. “Masih – apa itu bahasa manusianya? – bad mood?”
Malaikat tersenyum. “Ya. Lihat mereka. Beberapa detik yang lalu mereka jatuh ke jalan keburukan, sekarang cepat selaki merasa berdosa dan cepat-cepat bertobat. Tapi pasti – paling cepat nanti malam – ia akan kembali berbuat dosa.”
Mendengar itu, mau tak mau Setan tersenyum. “Sebenarnya kau iri pada mereka, kan, wahai penghuni cahaya yang agung? Pada manusia, maksudku.”
“Kenapa aku harus iri? Kami tidak mempunyai sifat seperti itu.”
“Aku iri pada manusia.” aku sang Setan tanpa basa-basi. “Karena mereka diciptakan dengan kesempatan untuk memperbaiki dosa mereka dan mendapat ampunan dari Tuhan. Berbeda dengan kami, para penghuni kegelapan, yang sejak awal memang diciptakan untuk menjadi pendosa abadi. Kami tak mempunyai kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahan kami. Dan lucunya, kami juga sama sekali tak mempunyai keinginan untuk memperbaiki dosa-dosa kami, karena kami memang tidak diciptakan memiliki kemampuan dan perasaan seperti itu.”
“Karena itulah kalian menjadi penguasa dunia kegelapan.” komentar Malaikat.
“Tapi kurasa kau juga iri pada mereka, makhluk cahaya.” ujar sang Setan lagi. “Kau iri pada manusia karena mereka diberi pilihan untuk menjalani hidup mereka, untuk menemukan jalan mereka yang sebenarnya. Berbeda dengan kalian para makhluk cahaya yang telah ditakdirkan untuk setia pada Tuhan dan tak punya pilihan yang lain. Kalian tidak punya kesempatan untuk mencicipi bagaimana rasanya dosa untuk mengerti bagaimana caranya mendapatkan pahala seperti mereka. Mereka mendapatkan pahala bagi setiap perbuatan baik mereka, sementara kau yang selalu berada di jalan kebaikan kurasa tak pernah mendapat janji hadiah seperti itu, eh? Sama seperti aku yang hanya akan selalu mendapat dosa tanpa pernah mencicipi pahala.”
Malaikat terdiam agak lama, seakan tengah merenungi sesuatu. Beberapa saat kemudian ia kembali bersuara. “Kalau aku mengerti perasaan iri sepertimu, mungkin juga aku akan menjawab ‘ya’ untuk justifikasimu tadi.”
“Kau sudah mengatakannya. Secara tersirat.” Setan nyengir dan mengangkat bahu.
“Tapi itu sama sekali tidak berarti aku ingin menjadi manusia. Aku tetap bersyukur pada Tuhan bahwa aku diciptakan sebagai malaikat yang bermandikan cahaya.” tambah Malaikat acuh.
“Bah! Dasar makhluk yang selalu terpuji! Menyebalkan!” cibir Setan. “Yah… tapi aku juga senang-senang saja, sih, dengan tugasku yang seperti ini.”
“Kita akan bertemu lagi, kalau begitu.”
Setan nyengir. “Artinya kau sudah tidak bad mood lagi, eh?”
“Ya. Aku mau kembali sekarang.”
“Sampai jumpa dalam pertarungan berikutnya, kalau begitu.”
Setelah itu, kedua makhluk tak kasat mata itu menghilang dari dunia yang kasat mata, kembali ke kediaman mereka masing-masing yang berlawanan.
Satu hal yang mereka tak sadari, walaupun mereka dari sisi manapun terlihat begitu berlawanan, tapi sebenarnya mereka itu sama. Mereka sama-sama diciptakan untuk menjadi pilihan bagi manusia, menjadi baik atau jahat. Mereka sama-sama ditakdirkan untuk menjadi representatif dari dua sifat yang bercampur dalam diri manusia, kebaikan dan kejahatan. Mereka sama-sama tidak bisa memilih takdir mereka. Dan mereka sama-sama….. iri pada manusia.
A/N: hahahahaha…. postingan baru!!! Akhirnyaaaa!!! Tapi ini cerpen gaje… jadi maaf ya… cuma lagi pengen menuangkan pikiran aja…
Eeeeniwey… diripiw, yaaa….
Komentar Terakhir