The World Which Nothing Without Words

Just another WordPress.com weblog

Peter Pan dan Kapten Hook Oktober 22, 2008

Filed under: Multiply shot — Phoebe Yuu @ 9:25 am
Tags: , , ,

“Fharan! Lagi-lagi kau menulis seenakmu sendiri!” itu adalah kata pertama yang mampir ke telinga Rasy dan Fharan saat kedua anak laki-laki itu memasuki ruangan Shire, ketua yang mengkoordinir gerakan anak-anak pemilik Alter seperti Fharan dan Rasy. Begitu mendengar bentakan pemuda kurus-jangkung itu, Fharan segera menyembunyikan dirinya di balik tubuh Rasy yang memang lebih besar dan tinggi darinya. Anak pucat itu mencengkeram lengan baju Rasy yang hanya bisa mendesah pelan. “Kau juga, Rasy! Sudah kubilang awasi Fharan dengan benar! Jangan biarkan dia menulis seenaknya sendiri begitu!”

“Maaf.” Rasy hanya menjawab singkat, acuh. Ia memang terkenal sebagai anak pemberontak yang kurang sopan, tapi ia sama sekali tak pernah kerepotan dengan sifatnya itu, walaupun terkadang Fharan – yang dalam beberapa kesempatan bisa jadi amat sangat sopan – mengomentari dan membenarkan sikapnya yang agak kurang ajar. Rasy menggaruk belakang kepalanya, tetap dengan sikap acuh. “Lain kali akan kuikat tangannya supaya dia tidak menulis sembarangan lagi.”

“Ini sudah beberapa kali terjadi, Rasy! Dan pada akhirnya kau selalu saja meleng saat Fharan menulis seenaknya!” Shire – semua orang menyebutnya begitu, memang. Tapi Rasy sama sekali tak yakin kalau itu nama aslinya – kembali membentak Rasy. “Kalau kau tak bisa mengawasinya, aku akan memasangkan Fharan dengan Alter Child yang lainnya!”

“Tidak! Jangan!” Fharan tiba-tiba berseru.kencang, membuat Shire dan Rasy kompakan kaget. Fharan jarang bicara keras, semua kata-katanya terucap dengan pelan seperti nyaris berbisik, dan mereka semua yang ada di base camp 17 sudah terbiasa dengan itu. Karena itu, saat-saat dimana anak pucat itu bicara keras selalu membuat kaget orang-orang di sekitarnya.

“Apa maksudmu, Fharan?” tanya Shire ketika ia sudah bisa mengembalikan dirinya dari kondisi kaget karena bentakan Fharan tadi.

“A-aku nggak mau dipasangkan dengan anak lain.” Fharan kembali ke volume suara awalnya yang pelan. Ia makin menyembunyikan dirinya di balik tubuh Rasy. “Maunya sama Rasy saja.”

“Karena Rasy selalu memberimu kesempatan untuk menulis dengan bebas, kan?” Shire mencibir sambil membuang pandangan tak enak pada Rasy, yang sialnya, ditanggapi dengan sendawa besar oleh yang bersangkutan. Cara yang cukup tidak sopan untuk menanggapi hinaan, ya. Tapi seperti Rasy pernah peduli saja.

Dari balik punggungnya, Rasy bisa merasakan tensi Fharan meningkat. Kemungkinan besar anak laki-laki itu sekarang tengah memelototinya karena jawaban tidak sopannya. Rasy memutar bola matanya. Untunglah mereka sedang ada di ruangan ketua, jadi Fharan tak bisa memarahinya secara terang-terangan.

“Bukan. Rasy tak pernah mengizinkanku menulis sembarangan, kok. Aku saja yang selalu berhasil mencuri kesempatan untuk menulis.” Fharan menjawab setelah selesai memberikan pelototan singkat pada teman sekelompoknya. Suaranya tetap kecil dan mempunyai getaran ketakutan, seperti biasa. “Tapi aku maunya tetap sekelompok sama Rasy. Karena dari awal memang aku memutuskan untuk sekelompok sama Rasy.”

“Fharan …” Shire mendesah berat, lelah. “Aku tahu kau bergabung ke tim ini karena Rasy yang mengajakmu untuk menjadi teman sekelompoknya. Tapi begitu masuk ke tim ini, kau seharusnya tak boleh menolak untuk dipasangkan dengan siapa pun.”

“Aku tak mau kalau bukan dengan Rasy!” Fharan mulai bersikeras. Rasy menoleh ke arah teman sekelompoknya itu, sedikit terkejut atas sikap memaksa yang baru kali ini dengan jelas ditampakkan temannya itu. Biasanya Fharan selalu menuruti apa yang diperintahkan tanpa banyak perlawanan meskipun perintah yang diberikan padanya tak sesuai dengan kata hatinya. Lalu sekarang kenapa Fharan malah bersikap seperti ini hanya untuk tetap berada sekelompok dengannya?

“Fharan!” Shire mulai membentak gemas. Fharan mencengkeram lengan baju Rasy erat. Jelas ia ketakutan, dan tampaknya sebentar lagi ia akan mulai menangis.

“Jangan seenaknya, Shire!” akhirnya Rasy berteriak. Ia berdiri tegak dan menutupi tubuh kurus Fharan dengan suksesnya. “Aku yang menemukan Fharan! Akulah yang telah membawa anak dengan Alter-Rare ini! Seharusnya kau berterima kasih padaku! Takkan kubiarkan kau seenaknya mengambil Fharan dan memasangkannya dengan anak lain! Aku yang menemukannya, maka Fharan milikku!”

Shire terlihat agak ‘mundur’ setelah mendengarkan bentakan posesif dari Rasy. Melihat itu, Fharan tersenyum dan kembali memunculkan dirinya di samping teman sekelompoknya. “Kalau bukan sama Rasy, aku akan keluar dari tim ini.”

Shire kembali mendesah berat, kali ini bercampur dengan nada frustasi yang tampak nyata. Bahaya membiarkan seorang anak dengan Alter Dollsemeyer berkeliaran di luar setelah dengan jelas memberitahukan kelemahan camp 17 padanya. Ancaman Fharan tadi bisa berarti lebih daripada hanya sekedar ‘keluar’.

“Baiklah,” gerutu Shire akhirnya, yang seketika memunculkan senyum kemenangan di bibir kedua bocah di hadapannya. “Kalian boleh terus sekelompok. Tapi kuingatkan sekali lagi, Rasy. Kau harus menjaga Fharan agar dia tak menulis sembarangan lagi. Dan Fharan, berjanjilah. Kalau kau tak mau dipindahkan ke kelompok lain, jangan membuat Rasy susah karena kau menulis sembarangan lagi. Kalian punya banyak misi yang jauh lebih penting daripada sekedar mengembalikan tokoh-tokoh ciptaanmu ke dunia buku.”

“Baik. Maafkan kami.” kedua bocah itu menunduk dalam bersamaan. Rasy dipaksa menunduk oleh Fharan, sebenarnya.

“Jadi … dimana posisi makhluk konyol ciptaan Fharan sekarang ini?” tanya Rasy, tetap dengan nada tak sopannya yang biasa. Ia menunjuk Fharan yang merengut – dan mendengus – mendengar kata-katanya dengan ibu jarinya.

“Aku telah mengirimkan data posisinya ke terminal port milik kalian. Kalian sudah bisa melacaknya sekarang ini, kurasa.” ujar Shire sambil memeriksa port master miliknya sendiri. Kedua anak laki-laki itu segera mengambil terminal port mereka yang berbentuk seperti console portable gameboy dan melihat sebuah sinyal merah berkedip-kedip di layar port mereka, menandakan di situlah sasaran mereka berada.

“Cukup jauh …” gumam Rasy sambil terus memperhatikan port-nya.

Fharan mendongak dari port miliknya dan kemudian menepuk punggung Rasy lembut. “Tak apa, kan? Rasy kan bisa terbang kemana pun.”

Rasy memutar bola matanya. “Memang. Tapi terbang kemana-mana sambil menggendongmu … itu baru menyiksa …”

Fharan merengut. “Baiklah. Kalau begitu aku jalan kaki!”

Rasy mengernyit tidak senang. “Itu malah makin merepotkan! Kau bisa saja tersesat dan menangis di tengah jalan! Itu pekerjaan tambahan untukku!”

“Sudahlah, lebih baik sekarang kalian cepat pergi. Masih banyak tugas yang harus kalian selesaikan hari ini. Jangan buang-buang waktu hanya untuk berdebat.” Shire memotong pembicaraan kedua bocah itu saat melihat Fharan kelihatan sudah mau mulai ngambek. Pemuda 19 tahun itu memang sangat perhatian pada perubahan mood Fharan. Tapi Rasy pribadi menganggap bahwa Shire sebenarnya hanya ‘takut’ pada kekuatan Fharan, yang memang mengerikan. Karena kalau ngamuk, anak laki-laki kurus itu bisa menulis sesuatu yang berbahaya – bagi siapa pun. Wajar, sebenarnya, Shire begitu menjaga perasaan Fharan yang terlalu kalem itu.

Rasy mengangguk sekali sebelum berbalik dan mendorong teman sekelompoknya keluar dengan sebelah tangannya. Sebelum benar-benar berbalik, Fharan sempat menunduk sekali, yang hanya dibalas dengan sebuah anggukan tak kentara dari Shire.

Setelah keluar dari ruangan Shire dan berjalan agak jauh dari ruangannya, Fharan akhirnya menghela nafas panjang. Ia kemudian menatap Rasy lembut. “Rasy menyelamatkanku lagi.”

Rasy berdecak. “Bukan lagi. Aku kan memang selalu menyelamatkanmu.”

“Ya.” Fharan tanpa ragu menyetujuinya. “Makasih, Rasy.”

“Kalau mau berterima kasih, traktir aku mie setelah misi ini selesai.” dengus Rasy. Setelah mereka sampai di atap bangunan markas mereka, Rasy segera berjongkok membelakangi Fharan. “Cepat naik.”

Fharan mengangguk sekali dan kemudian segera naik ke punggung temannya. Setelah Rasy memperingatkannya untuk berpegangan erat, mereka segera mengangkasa. Rasy meningkatkan kecepatannya. Hembusan angin yang dibelah oleh anak laki-laki berambut kecoklatan itu menerpa wajah Fharan dengan sadis, membuat Fharan lebih merapatkan tubuhnya ke arah Rasy.

“Rasy! Jangan terbang terlalu cepat!” Fharan berteriak sebisa mungkin, berusaha agar suaranya tidak tertelan oleh deru angin yang bergemerisik di sekitar mereka. “Dan jangan terlalu tinggi! Nanti nabrak pesawat!”

“Aaargh! Terbang sama kamu memang nyebelin!” Rasy menggerutu keras. Tapi toh nyatanya ia menuruti perintah temannya itu. Ia menurunkan kecepatan dan sedikit merendahkan posisi mereka. Ia memang agak takut juga tertabrak pesawat. Ia sudah pernah mengalaminya, tertabrak pesawat, maksudnya. Ia pulang ke camp dengan kepala berdarah dan lengan kirinya patah.

“Apa boleh buat. Kan aku milikmu. Mana bisa kau meninggalkanku begitu saja, kan?” Fharan tersenyum innocent. Rasy mendesah depresi. Fharan terkadang memang jadi terlalu pintar untuk anak seumurannya. Fharan terkikik melihat reaksi Rasy yang termakan ucapannya sendiri. “Yang tadi itu bukan asal bicara saja, kan?”

“Asal bicara.” gumam Rasy.

“Bohong.” ledek Fharan.

Rasy menggeram kesal. Fharan lantas diam.

“Apa yang kau tulis kemarin?” tanya Rasy sebagai pengalih topik. Di punggungnya Fharan tersenyum misterius.

“Kau akan suka tulisanku.”

A/N: Waaaai!!! Aku bohoooong!!! Sekuel dari Peter Pan dan Dollsemeyer bukan Peter Pan dan Wendy, tapi Peter pan dan Kapten Hook! Soalnya, waktu aku nyuba nulis, ternyata itu cerita masih jauh dari selesai. Ehhehehehe… kayaknya aku bener-bener harus mempertimbangkan menjadikan cerita ini jadi novel, deh. Duh, aku gak bisa nulis pendek-pendek! Kata-kata meluncur begitu saja! Gyaaaaa! Tapi kalau kalian mau review, itu akan saaaaaaaaangaaaat membantu!!!

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.