Dua anak laki-laki itu terus terbang sampai mereka memasuki daerah hutan, entah hutan apa namanya. Rasy tak terlalu peduli, lagipula. Hanya saja, walaupun terminal port mereka masih bisa menunjukkan dimana makhluk yang keluar dari cerita Fharan berada, tapi pepohonan ratusan tahun yang rimbun menutupi hutan tropis itu membuat pandangan mereka dari atas terbelenggu oleh warna hijau di mana-mana. Rasy menggeram kesal. Apa Fharan tidak pernah bisa mengatur agar tokohnya muncul di tempat yang biasa, seperti kota atau desa? Kenapa harus selalu di tempat sunyi seperti ini?
“Rasy, kurasa ada di sekitar sini.” ujar Fharan sambil terus memeriksa terminal port-nya. “Sebaiknya kita turun? Kalau tetap terbang, kita nggak akan menemukannya.”
Rasy kembali menggeram sebelum akhirnya merendah dan mendarat dengan mulus tanpa tersangkut ranting pohon. Setelah mendarat, ia segera mengambil terminal port miliknya dan mulai mengecek keberadaan target mereka. Ia kembali menggeram saat melihat port milinya.
“Rasy, kenapa, sih? Dari tadi begitu terus.” Fharan – yang selalu kalem dan sopan seperti biasa – segera mengkritik sikap buruk temannya. Mendengar kritikan Fharan, Rasy spontan saja menengok marah ke arah bocah pucat itu.
“Kau!!” teriaknya marah. “Kenapa membuat setting cerita di tempat yang seperti ini, sih!? Di sini banyak binatang buas! Dan juga jalannya sulit! Kau mau kita mati ditelan macan atau mati karena tersesat, hah!?”
Fharan tersenyum innocent dan kemudian mengangkat buku dan pensil yang ia bawa-bawa dari tadi. “Aku bisa mengaturnya.”
“Kita nggak punya kompas! Dan tak ada kompas di port!” Rasy masih terus berteriak marah sambil menunjuk-nunjuk Fharan dengan liar.
“Ssht … Rasy. Kalau kau teriak-teriak begitu, bisa-bisa macannya keburu datang sebelum aku sempat mengatur situasinya.” Fharan menempelkan telunjuknya di bibir, menyuruh Rasy diam. Rasy yang sadar kalau kata-kata teman pucatnya itu benar, otomatis segera diam dan membekap mulutnya sendiri. Fharan kembali tersenyum melihat tingkah temannya. “Aku bawa kompas.”
Mata Rasy terbelalak lebar melihatnya, sebelum digantikan oleh tatapan kesal. Ia kembali menggeram. “Kau … sudah merencanakan semua ini, kan?”
Fharan tak mempedulikan celotehan temannya dan segera mengambil kompas dari dalam saku celananya. Ia melihat kompas itu sejenak, lalu menyesuaikannya dengan petunjuk arah di port miliknya. Setelah berhasil menemukan arah yang benar, Fharan segera berjalan mendahului Rasy tanpa peringatan. Rasy memutar bola matanya. Oh, lain kali aku harus berpikir seribu kali untuk tetap mempertahankannya di kelompokku.
“Fharan!” panggil Rasy sebelum teman pucatnya menghilang ke dalam hutan terlalu jauh. Yang bersangkutan menengok kalem.
“Ya, Rasy?”
Rasy menunjuk sebuah batu besar di sampingnya. “Duduk. Sebelum kita mencari makhluk ciptaanmu, akan lebih baik kalau kau mengatasi situasi di sini dulu. Aku tak mau tersesat di hutan ini.” ia segera menambahkan kalimatnya begitu melihat Fharan akan mengatakan sesuatu. “Dan sebaiknya kau lakukan sebelum ada macan atau ular yang menemukan kita.”
Fharan hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Ia kemudian beranjak menuju batu besar yang ditunjuk Rasy dan duduk di atasnya sebelum mulai menulis. Rasy berdiri di sampingnya sambil memasang aura waspada, kalau-kalau ada hal berbahaya hingga ia bisa menyambar Fharan dan pergi dengan cepat.
Rasy terkadang sempat memandangi Fharan disela kesibukannya berjaga. Jujur saja, sampai sekarang pun ia masih terus mengagumi sosok temannya itu jika ia sedang menulis cerita. Fharan yang menurutnya lemah dan cenderung rapuh, jika sudah berhadapan dengan buku dan pensil, sifatnya – atau auranya, tepatnya – berubah drastis menjadi begitu tenang dan penuh percaya diri. Rasanya nyaris tak mungkin melihat getaran ketakutan pada anak itu saat ia tengah tenggelam dalam imajinasinya.
“Wajahku menarik untuk dilihat?” suara kecil Fharan menyentakkan Rasy kembali ke alam sadarnya. Fharan sudah berdiri di samping Rasy, tersenyum pada anak laki-laki itu. Rasy hanya mengeluarkan dengusan pendek sebagai jawaban.
“Sudah selesai?” tanya Rasy. Fharan mengedikkan kepalanya ke suatu arah, Rasy mengikutinya. Di depan mereka tiba-tiba saja sudah tercipta sebuah jalan setapak. Pohon-pohon raksasa yang tadinya simpang siur tiba-tiba menghilang dari jalan setapak yang baru tercipta. Ada burung-burung kecil berterbangan ke sana-kemari dan bunga-bunga liar beraneka warna muncul entah dari mana. Rasy memutar bola matanya untuk yang satu itu. Imajinasi Fharan terkadang agak salah tempat.
“Lebih baik?” Fharan meminta pendapat temannya yang sedari tadi hanya diam.
“Berlebihan. Tapi yah … lebih baik.” desah Rasy sambil terus memutar kepalanya memastikan keadaan sekelilingnya. Setelah itu pandangannya kembali menelusuri jalan setapak yang baru tercipta. “Ke mana arah jalan itu?”
“Ke tempat tujuan kita.” jawab Fharan tenang.
“Seharusnya aku tahu.” Rasy kembali menghela nafas. Ia kemudian berjalan mendahului Fharan memasuki jalan setapak baru itu. “Ayo. Aku ingin cepat pulang dan ditraktir mie olehmu.”
Fharan tersenyum. “Kurasa kalau kau bertemu sasaran kita, kau akan berubah pikiran.”
Rasy seketika mendapat firasat buruk. Ia menoleh ke arah temannya yang kini sudah mensejajarkan diri dengannya dan membuang pandangan penasaran. Fharan hanya tersenyum misterius menanggapinya.
Mereka terus mengikuti jalan setapak yang dibuat oleh Fharan. Entah sudah berapa lama mereka berjalan, Rasy tak menyadarinya. Sejak Fharan mengucapkan kalimat terakhirnya tadi, Rasy selalu dipenuhi oleh perasaan yang tak bisa ditebak bahkan oleh dirinya sendiri. Ada campuran rasa takut, rasa cemas, dan penasaran bercampur jadi satu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan perasaan itu dan akhirnya memutuskan untuk memeriksa keberadaan target mereka melalui port. Sudah dekat. Rasy mengangkat sebelah alisnya saat menyadari sesuatu. Kenapa dari tadi sasaran mereka tidak bergerak?
“Rasy.” suara Fharan kembali menginterupsinya. Anak berambut coklat itu segera menoleh ke arah temannya. Ia melihat Fharan kembali mengedikkan kepalanya ke arah di depan mereka. Rasy mengikutinya, dan ia harus pasrah terbelalak setelahnya.
Di depan mereka ada seorang gadis cilik dengan rambut hitam yang terkepang dua tengah duduk di bawah sebuah pohon rindang, di tengah hutan. Gadis cilik itu berusia sekitar 9-10 tahunan. Rasy tak mempercayai apa yang dilihatnya. Rambut hitam, kepang dua, bola mata hitam yang bersinar ceria, bahkan senyum lebar gadis itu ketika melihat kedua anak laki-laki yang mendatanginya, semuanya sama persis seperti yang ada di ingatan Rasy. Ia tahu gadis itu. Selamanya ia akan selalu tahu.
“Alia …” Rasy tanpa sadar membisikkan nama gadis itu. Entah kenapa pikirannya malah jadi kosong setelah melihat sosok yang selama ini selalu dirindukannya itu.
“Jadi namanya Alia?” lagi lagi suara Fharan yang mengangkatnya kembali ke dunia nyata. Seketika itu juga realisasi dari kejadian yang terjadi di hadapannya menyerang pikiran kosongnya. Dengan cepat ia berbalik marah menghadap Fharan dan mencengkeram kerah baju anak laki-laki yang lebih muda darinya itu. Nafas Rasy seketika tersengal-sengal karena menahan emosinya, berbeda dengan Fharan yang tetap tenang seperti biasa. Rasy makin mencengkeram kerah baju anak itu dan mendekatkan wajah pucatnya pada wajahnya sendiri. Kenapa? Kanapa dia tidak gemetar ketakutan seperti biasa? Kenapa bisa dia jadi setenang itu?
“Kenapa …?” akhirnya sepatah kata meluncur dari mulut Rasy yang masih berusaha mengembalikan ritme nafasnya. “Kenapa!? Apa yang kau lakukan Dollsemeyer bodoh!? Kenapa kau membuatnya!?” Fharan tak bergeming, tetap tenang seperti boneka hidup, membuat emosi Rasy semakin memuncak. “Jawab aku! Fharan!”
“Kau merindukannya, kan?” jawab Fharan dengan suara nyaris berbisik. Anak berambut hitam itu kemudian memandang ke arah gadis kecil di hadapan mereka yang kelihatan bingung melihat kejadian di hadapannya. “Aku selalu melihatmu menangis di malam hari. Aku tahu kau merindukannya. Hanya ada satu foto yang ada di dekat tempat tidurmu,” Fharan kemudian menunjuk gadis itu. “Foto kau dan dia. Foto kalian berdua.”
“Lalu …?” suara Rasy berubah bergetar. Ia berusaha keras menahan air mata yang mulai menggenang di matanya agar tak menetes. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri. Alasan dirinya memilih Fharan menjadi teman satu kelompoknya awalnya memang untuk tujuan ini. Ia menantikan hari ini. Tapi kenapa sekarang ia malah marah-marah pada Fharan? Fharan yang telah mewujudkan impiannya?
“Rasy sudah banyak membantu dan membelaku.” lanjut Fharan, kali ini sebuah senyum lembut mulai terbentuk di bibirnya yang entah sejak kapan warnanya jadi lebih biru, lebih pucat dari yang selama ini Rasy ingat. “Anggap saja ini sebagai tanda terima kasihku.”
Tiba-tiba saja Rasy jadi sadar alasan kenapa ia ingin marah pada temannya itu. “Waktu itu … bukankah kau bilang kau nggak bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati?”
“Ya, aku memang nggak bisa.” jawab Fharan, masih tersenyum, tapi kali ini senyumnya berubah sedih. “Wendy yang ada di sini sekarang bukanlah Alia-mu. Dia hanya tokoh ciptaanku, yang kubuat sesuai dengan Alia-mu. Sosok yang ada di hadapan kita sekarang hanyalah Wendy dari ceritaku, bukan Alia.”
Rasy perlahan melepas cengkeramannya pada Fharan, meskipun tanpa memutuskan kontak mata dengan temannya itu. Pikirannya kembali kosong. Ia tak tahu apa yang harus ia lakukan setelah Alia – Ah, bukan. Wendy yang mirip Alia – ada di hadapannya. Fharan kembali tersenyum dan menepuk bahu Rasy lembt.
“Lebih baik kau ajak dia jalan-jalan atau sebagainya? Kalian kan sudah lama tidak bertemu. Ah, maksudku, kau sudah lama tidak menemuinya.” saran Fharan lembut. Untuk pertama kalinya, akhirnya Rasy memutuskan kontak matanya dengan Fharan dan memandang A-Wendy, yang kini tengah tersenyum manis padanya.
“Kita harus mengembalikannya ke dunia buku …” bisik Rasy. Entah kenapa tiba-tiba ada rasa sedih di hatinya. Alia-nya ada di sini, meskipun itu bukan Alia yang sesungguhnya. Ia tahu itu bukan Alia, dan tugasnya adalah mengembalikannya ke buku. Tapi melihat wajah yang selama ini dirindukannya, ia tak ingin melepaskannya … lagi.
“Tak perlu khawatir soal itu …” gumam Fharan. Suaranya lebih kecil dari suara aslinya yang memang sudah sangat kecil. Meskipun begitu, toh jarak mereka yang sangat dekat membuat Rasy bisa mendengar ucapan teman pucatnya itu dengan jelas. “Dia akan kembali ke dunia buku dengan sendirinya saat matahari tenggelam. Sekarang masih jam 4 sore, kau masih punya sekitar 2 jam untuk bersamanya. Tenang saja, aku sudah mengaturnya.”
Rasy menatap temannya hampa. Fharan tersenyum dan mengangkat alisnya. “Atau kau butuh waktu yang lebih lama bersamanya? Atau kau ingin cepat-cepat pulang? Aku bisa merubah alur ceritanya.”
“Tidak usah.” jawab Rasy akhirnya sambil berbalik membelakangi Fharan dan berjalan menuju A-Wendy. “Itu sudah cukup.”
Fharan beranjak duduk di bawah sebuah pohon yang agak besar. “Aku tunggu di sini.” Fharan segera menambahkan kalimatnya ketika ia melihat ada ekspresi tidak setuju campur cemas yang hinggap di wajah temannya. “Tenang saja, aku takkan dimakan macan. Kan sudah kuatur.”
Ada sedikit rona merah di wajah Rasy begitu sadar bahwa temannya membaca jelas apa yang ingin disampaikannya. Ia hanya bisa mengangguk sekali sebelum kembali menghadapi Wendy di depannya, Wendy yang begitu mirip Alia-nya. Gadis kecil itu tersenyum lembut padanya, innocent. Senyumnya agak mirip Fharan. Dasar Dollsemeyer bodoh. Pikir Rasy. Ia balas tersenyum pada gadis itu.
“Siapa kamu?” tanya gadis itu.
“Aku Peter Pan.” Alter Peter Pan, sebenarnya.
Mata hitam gadis itu membelalak senang saat Rasy menyebutkan namanya – nama Alternya. Sinar kebahagiaan menari-nari di mata gadis cilik itu. “Peter Pan? Benarkah?”
“Ya.” jawab Rasy. Ia tersenyum nostalgis. Fharan memang hebat. Bahkan cara tersenyum dan gaya bicaranya mirip dengan Alia.
“Kau bisa terbang? Kau mau membawaku terbang?” tanya gadis itu bersemangat.
“Rasy, nanti kau mau membawaku terbang, kan?”
Rasy kembali tersenyum dan mengangguk. Kenangannya akan teman masa kecilnya, akan sepenggal konversasi kecil dengan temannya itu kembali melintas di pikirannya. Ia mengulurkan tangannya. “Mau terbang ke mana?”
“Ke mana saja! Yang penting terbang dengan Peter Pan!” jawab gadis itu riang. Rasy kembali mengangguk. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Fharan yang duduk agak jauh dari tempatnya.
“Aku pergi dulu, Fharan.” seru Rasy, agak keras agar temannya itu bisa mendengar suaranya. Ia mengamati Fharan yang mengangguk sekali. Matanya yang berhalusinasi atau ia memang melihat Fharan jadi lebih pucat dari sebelumnya? Bahkan ia seperti melihat sinar mata Fharan yang melemah. Ketika ia sadar dari lamunannya, ia segera menambahkan kalimatnya. “Berhati-hatilah. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku.”
Dengan sebuah anggukan lagi dari Fharan, Rasy akhirnya mengangkat tubuh Wendy dan mengangkasa, meninggalkan Fharan sendirian di tengah hutan. Sesaat hatinya terusik akan kenyataan kalau ia meninggalkan temannya sendirian di tengah hutan. Apalagi itu Fharan, si lemah dan cengeng itu. Tapi kemudian suara antusias dari Wendy benar-benar mengambil alih seluruh perhatiannya.
Rasy merasa sangat senang bersama Wendy ciptaan Fharan ini. Gaya bicara dan sikapnya benar-benar seperti Alia yang ia kenal sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi yang kembali membuat Rasy sadar kalau Wendy bukanlah Alia adalah memori gadis itu. Ia memang bicara banyak dengan Rasy. Makanan kesukaan, bunga kesukaan, dan lain-lain, tapi saat Rasy tiba-tiba bernostalgis dengan kenangannya bersama gadis itu dulu – sebagai Alia – gadis itu hanya bengong karena ia tak mengerti apa yang tengah dibicarakan oleh Rasy.
Mereka terbang sampai jauh dari tempat mereka bertemu tadi dan bicara banyak hal, sampai-sampai Rasy tak sadar kalau mereka sudah terbang selama hampir 2 jam. Dan Rasy, selama ini, hanya bisa terbang non-stop maksimal 3 jam. Lebih dari itu, ia akan jatuh kelelahan karena menggunakan kekuatannya terus-terusan. Tapi mana mungkin ia peduli akan batas kekuatannya kalau yang sedang bersamanya saat ini adalah ‘penumpang’ yang paling diinginkannya.
“Aku harus pulang …” suara lembut gadis kecil itu akhirnya meluncurkan satu kalimat yang paling tak ingin didengar oleh Rasy. Ia tak ingin gadis itu menghilang lagi. Tapi sisi hatinya yang lain tahu kalau gadis itu bukanlah orang yang selama ini dirindukannya. Bukan teman baiknya. Bukan Alia.
Rasy akhirnya mengangguk. “Kita kembali ke tempat kita bertemu tadi …?”
“Tidak usah.” jawab gadis itu sambil menggeleng. “Aku ingin melihat matahari tenggelam dari atas sini, boleh?”
“Baiklah …” gumam Rasy. Air mata mulai kembali menggenang di pelupuk matanya. Tapi jelas Rasy takkan membiarkannya jatuh begitu saja. Ia menoleh ke arah matahari yang mulai berwarna kemerahan. Sebentar lagi akan terbenam.
“Terima kasih untuk hari ini, Peter Pan.” gumam Wendy di telinga Rasy sambil memeluk anak laki-laki itu erat. “Aku sudah lama ingin bisa terbang bersama Peter Pan seperti ini. Hari ini aku senang sekali.”
“Jangan pergi …” entah kenapa akhirnya Rasy malah mengatakan kata-kata yang sedari tadi berusaha untuk tak dikatakannya. Ia mempererat pegangannya pada tubuh gadis yang sedari tadi digendongnya dan mendekatkan tubuhnya.
Gadis kecil itu menggeleng. “Aku juga ingin terus berada di sini, tapi aku harus kembali … Kalau tidak, temanmu akan berada dalam bahaya. Menahanku selama ini di sini sudah sangat menyusahkannya.”
Fharan! Rasy tiba-tiba teringat kembali pada teman pucatnya itu. Rasa gelisah kembali menyerang dirinya.
“Jangan khawatirkan dia. Selama ini dia selalu suka menulis, dan tak pernah kerepotan karenanya.” ujar Rasy meyakinkan gadis itu, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri yang terus terserang rasa gelisah.
“Tapi tidak dengan ceritaku. Ceritaku adalah pengecualiannya. Karena itu aku harus kembali.” gadis itu menatap ke arah matahari merah yang mulai memeluk garis horizon. “Lihat, matahari sudah mulai terbenam. Aku harus segera pergi.”
Saat gadis itu mengucapkan kalimatnya, ada sebuah cahaya yang bersinar berasal dari bawah. Rasy melongok ke bawah, dan melihat bahwa gadis itu perlahan mulai menghilang menjadi butiran cahaya, mulai dari kakinya. Seketika Rasy terserang rasa panik yang laur biasa.
“Tunggu! Jangan pergi! Jangan pergi, A-Wendy!” Rasy berteriak sekuat tenaga. Ia mencengkeram bahu gadis itu dengan kencang, sama sekali tak peduli apakah gadis itu akan kesakitan atau tidak. Ia berharap tubuh gadis itu berhenti berubah menjadi partikel cahaya, tapi partikel cahaya itu terus merambat naik tanpa ampun, menguraikan tubuh gadis itu.
“Selamat tinggal, Peter Pan. Sampaikan terima kasihku pada temanmu karena telah mempertemukan kita.” dengan kalimat terakhir itu, gadis itu akhirnya lenyap dengan sempurna, bersamaan dengan menghilangnya cahaya matahari.
Kegelapan telah sempurna mendominasi seluruh langit, sekaligus hati Rasy. Air mata yang sekian lama ditahannya entah kenapa kali ini tak bisa lagi ditahannya. Beberapa bulir air mata jatuh dari pipinya, menghilang tertiup angin petang. Ia terdiam dalam posisi yang sama sampai sekitar 30 menit kemudian. Baru setelah itu ia baru teringat akan temannya. Perlahan ia terbang kembali ke tempat di mana Fharan menunggu. Ia tersenyum kala mengingat teman pucatnya itu. Mungkin ia setidaknya harus mengucapkan terima kasih pada Fharan. Semoga saja ketika melihat wajah anak itu mood-nya tidak berubah dan malah marah-marah padanya.
Suasana hutan kala petang memang sangat gelap. Dan itulah alasan Rasy jadi kembali mulai ngomel-ngomel. Bagaimana caranya ia menemukan Fharan di tempat segelap itu? Oh, untunglah tadi ia tak lupa mengingatkan Fharan untuk mengatur situasi hutan supaya lebih mudah. Ia jadi bisa mengandalkan jalan setapak yang tadi dibuat Fharan. Tapi ketika ia mendarat di tempat yang menurutnya tidak jauh dari tempat mereka berpisah tadi, ia menemukan suatu keanehan. Jalan setapak itu tidak ada! Rasy panik sekaligus bingung. Bukankan selama ini hal seperti ini ytak pernah terjadi? Bukankah selama ini cerita Fharan tidak pernah menghilang? Bukankah situasi yang diciptakan Fharan baru akan menghilang ketika Fharan menulis kalau situasi yang dibuatnya itu menghilang? Apa maksudnya ini? Fharan menghilangkan jalan setapaknya?
Rasy menggeleng. Fharan tak mungkin melakukannya. Anak itu penakut, dan Rasy tahu pasti kalau Fharan paling takut pada kegelapan. Fharan tak mungkin menghilangkan petunjuk di mana ia berada. Ia selalu takut sendirian. Fharan tak mungkin dengan sengaja menghilangkan situasi yang ia buat. Kecuali … sesuatu telah terjadi padanya.
“SIAL! FHARAN!!” rasa panik kembali menyerang Rasy. Ia segera terbang dan meningkatkan kecepatannya. Ia tak peduli kalau berkali-kali tubuhnya tergores ranting atau pun menabrak cabang pohon. Matanya terus meneliti sekitarnya, mencari sosok temannya. Ia menajamkan pandangannya menembus kegelapan, dan akhirnya ia menemukannya. Fharan. Anak itu kini terbaring di tanah, lemah.
“Fharan!” Rasy segera mendekati temannya itu dan mengangkat tubuh kurus temannya dari tanah. Ia meletakkan kepala Fharan di tangannya. Ada cairan kental berwarna merah di sekitar mulut anak laki-laki itu. Rasy makin panik. Apa yang terjadi!? Ia akhirnya meraba kening temannya untuk memeriksa jika ada sesuatu yang terjadi. Dingin.
“Fharan! Bangun! Ini aku! Fharan, jawab aku! Ayo bangun!” seru Rasy dalam kepanikannya. Ia mengguncang-guncangkan temannya, tapi Fharan sama sekali tak memberikan respon. Ia memeriksa nafas anak laki-laki yang kini wajahnya seperti kehilangan semua darah yang mengalir di tubuhnya itu. Masih bernafas, tapi dalam interval yang lama. Ia sedikit menghembuskan nafas lega. Fharan masih hidup.
Tapi bukan berarti ia bisa santai-santai di situ. Ia harus segera membawa Fharan ke pusat penelitian untuk diobati. Dengan cepat Rasy membereskan buku, pensil dan kompas Fharan yang berserakan di tanah, menjejalkannya sebisa mungkin di tempat yang bisa dimasuki, dan akhirnya dengan kecepatan maksimum Rasy kembali melesat ke angkasa, Fharan berada di dadanya, bukan di punggunya seperti biasa. Lebih baik begitu, karena kalau ia membawa Fharan di punggung, anak laki-laki itu akan mudah terjatuh.
Tubuh Rasy mulai terasa berat. Sebentar lagi 3 jam, limit kekuatannya akan tiba, ia sadar hal itu. Ia makin meningkatkan kecepatannya. Sebisa mungkin harus segera sampai ke camp, lebih dekat ke camp daripada langsung ke pusat penelitian. Itu lebih baik untuk Fharan, dan juga untuk dirinya, karena ia sudah tak terlalu yakin akan kemampuannya terbang membawa Fharan lebih lama lagi.
“Rasy …” suara kecil dan lemah yang selama ini dikenalnya menyerang telinganya, menghadiahinya dengan sebuah perasaan gembira yang amat sangat.
“Fharan! Kau tidak apa-apa? Tenang saja, kita akan segera pulang. Bertahanlah, ya?” ujar Rasy, gembira bukan main. Suaranya tanpa disadari melembut. Ia tak pernah bicara selembut ini pada siapa pun.
“Jangan … terbang terlalu cepat. Nanti nabrak …” bisik Fharan dengan suara yang begitu lemah, membuat emosi Rasy melonjak seketika. Sudah susah bicara begitu masih saja ingat hal-hal sepele begitu!? Sadar tak ada respon dari temannya, Fharan kembali bicara. “Rasy …”
“Diam, Fharan! Kalau tidak secepat ini, nanti kita takkan sampai dengan cepat! Limit kekuatanku akan segera tiba!” potong Rasy sebelum temannya berhasil kembali protes. Ia makin meningkatkan kecepatannya. Terlalu cepat, bahkan sampai ia sendiri tak bisa melihat ke depan karena hembusan angin yang dibelahnya.
“Dingin … Rasy …” Fharan mulai merajuk, membuat Rasy makin frustasi.
“Jangan cengeng! Ini cuma angin!” bentak Rasy gemas.
“Tapi … dingin … seperti ada es yang menutupi seluruh tubuhku …” Fharan menggeliat, berusaha mendekatkan tubuhnya pada Rasy sebisa mungkin. Kalimat Fharan ini membuat Rasy sadar akan sesuatu. Yang dikeluhkan Fharan bukanlah dinginnya angin …
“Bertahanlah, Fharan! Tetap buka matamu! Jangan tidur!” seru Rasy, sadar kalau keadaan teman pucatnya itu kritis. Ia mengencangkan pegangannya pada tubuh Fharan, berusaha mentransfer kehangatan tubuhnya ke tubuh dingin temannya. Tapi malah tubuhnya ikut-ikutan tertular suhu dingin Fharan.
“Aku takkan tidur … aku takut tak bisa kembali …” bisik Fharan, membuahkan beberapa keringat dingin mengalir di wajah temannya.
“Kalau begitu jangan tidur!” Rasy kembali menegaskan. Setelah itu ia mendengar sebuah isakan lemah yang berasal dari mulut temannya. “Fharan …?” ia bertanya hati-hati.
“Rasy … mataku susah kubuka … ada sesuatu yang memaksaku tidur …” Fharan terisak lebih keras. Tangannya yang mencengkeram kaus Rasy terasa bergetar hebat. “Rasy … aku takut …”
“Kau laki-laki! Jangan takut! Dan jangan tidur! Kalau tidur aku akan memukulmu!” bentak Rasy tanpa sadar. Ia sudah tak tahu lagi ia terbang ke mana. Ia hanya membiarkan instingnya membawanya. Ia harus segera membawa Fharan pulang.
Entah bagaimana Fharan menghentikan isakannya, tapi kedua tangannya tetap gemetar. Rasy dapat merasakan kalau Fharan tengah berusaha mendongak melihat wajahnya. “Rasy …” panggilnya. “Apa aku … akan mati …?”
“TIDAK, BODOH!!” raung Rasy, mulai lelah akan semua ini. Ia sekarang hanya ingin segera pulang dan memastikan bahwa Fharan baik-baik saja. Tidak. Ia tak boleh kehilangan Fharan. Selama ini hanya ada segelintir orang yang bisa dekat dengannya. Alia telah pergi, meninggalkannya sendirian. Dan sekarang setelah ia berhasil kembali menemukan orang yang bisa dekat dengannya, apa ia harus rela membiarkannya pergi lagi? Meninggalkannya sendirian lagi? Tidak! Itu tak boleh terjadi! “Bertahan, Fharan! Kalau kau kuat bertahan sampai pusat penelitian, nanti aku akan memberimu kesempatan menulis dengan bebas lagi!”
Fharan terkikik mendengarnya. Dan berikutnya, Rasy dapat melihat – walau sekilas – bahwa senyum Fharan berubah sedih. “Rasy … hari ini … kau senang …?”
“Ya.” jawab Rasy segera. “Sangat senang. Karena itu, kau bertahanlah! Aku masih mau menceritakan banyak hal, tentang apa saja yang kubicarakan dengan Wendy tadi.”
“Syukurlah …” desis Fharan. “Kebahagianmu yang jarang itu … setidaknya sepadan dengan 5 tahun hidupku …”
Rasy membeku mendengarnya. “Fharan, apa maksudmu …?”
“Aku tak bisa menghidupkan orang yang suah mati … Tapi aku bisa membuat orang yang mirip melalui ceritaku …” jelas Fharan. Kedekatan tubuh mereka membuat Rasy bisa merasakan nafas Fharan yang sudah mulai dingin seperti es. “Tapi … membuat ‘makhluk’ lain yang eksistensinya pernah ada membutuhkan pengorbanan. Aku … menukar 5 tahun hidupku untuk mempertahankan Wendy selama 2 jam …”
Rasy rasanya mematung – atau terbang dengan pose mematung. Ia ingin berhenti, tapi ia sadar ia tak boleh berhenti. Tubuhnya sudah mulai berat. Sekali ia berhenti, ia takkan bisa terbang lagi untuk waktu yang cukup lama. Cukup lama untuk menghilangkan nyawa Fharan.
“Tapi aku tidak tahu kenapa tenagaku jadi selemah ini …” Fharan masih terus bicara. “Aku bahkan tak bisa mempertahankan situasi hutan. Mereka menghilang tiba-tiba. Aku takut … dan lemah. Aku takut … Rasy …”
“Kita kan sudah tak berada di sana lagi, tenanglah!” suara Rasy keluar dengan bergetar. Ia lalu melihat sebuah cahaya dari bangunan sederhana. Bangunan yang ia tuju! “Lihat, Fharan! Kita sudah sampai di camp! Hei, kita sampai!”
“Kita pulang …” desis Fharan. “Aku … sudah boleh tidur …?”
“Jangan dulu! Kau baru boleh tidur kalau aku sudah mengizinkanmu!” Rasy berteriak sekencangnya, antara cemas dan senang. Ia menoleh ke arah Fharan. Tak ada gunanya. Temannya itu sudah tertidur. Kelopak matanya tertutup. Wajahnya sepucat mayat. “Fharan! Jangan tidur dulu!”
Rasy melesat memasuki camp dengan tetap terbang berkecepatan tinggi, tak mempedulikan protes dari anak-anak lainnya yang ia terobos begitu saja. Begitu melihat sebuah pintu kayu yang ditujunya, ia segera menabraknya sekeras mungkin hingga pintu itu terbuka. “Shire! Tolong Fharan!”
Rasy melihat ekspresi Shire yang bercampur antara kaget dan syok. Dengan cepat Shire mengambil Fharan dari tangan Rasy dan memeriksa keadaannya. “Dia sekarat. Tapi kurasa masih bisa tertolong.” gumam Shire. Ia kemudian memandang Rasy, yang masih melayang. “Apa yang terjadi? Fharan sekarat, dan kau … terluka cukup parah.”
“Nanti saja! Selamatkan Fharan terlebih dahulu!” Rasy berteriak gemas. Katanya Fharan sekarat, tapi kenapa orang ini masih bisa santai seperti itu!?
“Baiklah. Aku akan membawa Fharan ke pusat penelitian secepatnya. Kau segera susul aku.” perintah Shire sambil membawa Fharan.
“Tidak bisa. Limitku …” setelah selesai mengatakan itu, Rasy kehilangan seluruh kekuatan tubuhnya dan terjatuh tanpa peringatan ke tanah. Ia sama sekali tak bisa bergerak, hanya tergeletak seperti boneka hidup di lantai ruangan Shire. Shire yang sudah berada di ambang pintu sambil membawa Fharan segera berbalik melihat keadaan ‘anak buah’-nya yang satu lagi.
“Aku tak apa-apa, sudahlah! Selamatkan Fharan! Tubuhnya … dingin …” teriak Rasy dengan kekuatannya yang tersisa. Ada getaran ketakutan di nada suaranya. “Fharan … akan selamat, kan …?”
“Ya. Dia akan selamat. Percayakan padaku.” dengan itu Shire kembali berlari dan menghilang dari pandangan Rasy.
Rasy tersenyum sebisanya, dengan tubuhnya yang semakin melemah. Sekarang bahkan ia tak bisa menggerakkan kepalanya. Seluruh tubuhnya lumpuh total. Tapi ia tak peduli. Asal Fharan selamat ia tak peduli. Rasy menutup matanya perlahan dan membiarkan dirinya tenggelam dalam kegelapan abadi.
Terima kasih … Fharan …
A/N: Yippieeee! The last series of Peter Pan stories!! Ini sekuel yang ketiga! Hope You enjoy it! Ya ampuuuun…ternyata aku memang gak bisa bikin cerita yang bener-bener pendek. aq harus think forward nih buat menjadikan cerita ini sebagai novel. Habis aku sendiri dah jatuyh cinta sama Fharan, siiiiih!!! Duh, penulis bodoh! Tapi penulis bodoh ini butuh review dari kalian soal jelek-bagusnya cerita ini. Apalagi yang bisa membuat penulis merasa tersemangati selain review, benar tak? Sooo, review pleaseeeeee….
Warn: Jangan pernah mengira ini adalah cerita shonen-ai atopun cerita cinta sesama jenis! Tidaaaak!! Aq gak tega jadiin mereka jatuh cintaaa! Jadi jangan kira Fharan dan Rasy itu homo! Nah! Mereka normal! Cuma emang persahabatan mereka terlalu dalam (kelewat dalem, sebenernya).
Komentar Terakhir