<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>The World Which Nothing Without Words</title>
	<atom:link href="http://phoebeyuu.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://phoebeyuu.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 21 Mar 2011 13:53:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='phoebeyuu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>The World Which Nothing Without Words</title>
		<link>http://phoebeyuu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://phoebeyuu.wordpress.com/osd.xml" title="The World Which Nothing Without Words" />
	<atom:link rel='hub' href='http://phoebeyuu.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kisah Tengah Malam (Novelette: Part 1/3)</title>
		<link>http://phoebeyuu.wordpress.com/2010/06/23/kisah-tengah-malam-novelette-part-13/</link>
		<comments>http://phoebeyuu.wordpress.com/2010/06/23/kisah-tengah-malam-novelette-part-13/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Jun 2010 08:59:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Phoebe Yuu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Multiply shot]]></category>
		<category><![CDATA[angst]]></category>
		<category><![CDATA[drama]]></category>
		<category><![CDATA[Romance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://phoebeyuu.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Saat bulan memasuki setengah masa tugasnya, setiap malam di ruang baca yang luas di sebuah rumah terjadi perbincangan yang seru. Kisah-kisah mengalun layaknya sonata pengiring malam, memantul di dinding-dinding dingin, merayap di jaring laba-laba, bersahutan di segala sudut, beresonansi di ujung udara. Hal ini sudah menjadi seperti semacam ritual, pesta yang tak mungkin terlewatkan semalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=phoebeyuu.wordpress.com&amp;blog=4496336&amp;post=56&amp;subd=phoebeyuu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saat bulan memasuki setengah masa tugasnya, setiap malam di ruang baca yang luas di sebuah rumah terjadi perbincangan yang seru. Kisah-kisah mengalun layaknya sonata pengiring malam, memantul di dinding-dinding dingin, merayap di jaring laba-laba, bersahutan di segala sudut, beresonansi di ujung udara. Hal ini sudah menjadi seperti semacam ritual, pesta yang tak mungkin terlewatkan semalam pun.</p>
<p>Ya, setiap malam mereka bertukar kisah tentangmu – majikanku, majikan kami. Yang mereka ceritakan selalu tentang kamu. Aku pun berada di sana, kau tahu, bersandar santai di tempatku sambil mendengarkan cerita kawan-kawanku yang lain dan terkadang aku sendiri pun ikut menyumbang kisah – tentangmu, tentu saja.</p>
<p>Lucu juga kadang melihat mereka. Dalam kisah mereka selalu terselip kebanggaan karena kau telah memakai mereka, seakan-akan kau lebih menyayangi mereka dibandingkan yang lainnya. Aah&#8230; tak tahukah mereka kalau kau menyayangi kami semua dengan sama besarnya? Ya, karena kami adalah duniamu, harta paling berharga bagimu, yang paling kau jaga dengan hati-hati. Tapi bagaimanapun juga, kami – aku – takkan pernah bisa menjadi pemilik hatimu.</p>
<p>Karena kami – termasuk aku – hanyalah sekumpulan buku yang tertata rapi di seluruh rak-rak bukumu.</p>
<p>Tentu saja kami berharga. Kalau tidak mana mungkin kau sebulan sekali akan mengelap kami dari debu, membersihkan rumah kami – rak buku, maksudnya – dari sarang laba-laba yang sebenarnya juga butuh tempat tinggal hanya saja selalu memakai cara yang tidak sopan dalam meminta izin membangun rumahnya – kalau saja dia takkan penyet di dalam tubuhku, tentu aku akan mengizinkannya tinggal di dalamku, laba-laba malang – atau menyampuli anggota baru kami dengan sampul plastik, atau mengembalikan kami ke rumah masing-masing – sesuai abjad – saat kami habis mengunjungi satu sama lain dan kemudian dengan bodohnya kehilangan arah pulang hingga akhirnya harus pasrah terjepit diantara abjad asing – yang tidak sesuai dengan abjad kami sendiri – dan buku yang ukurannya lebih ‘mengerikan’ – persetujuan kita di sini adalah; buku tebal itu mengerikan bukan hanya bagi para anti-buku, tapi juga bagi buku-buku kecil nan simpel – selama berbulan-bulan. Aku pernah mengalaminya saat aku mengunjungi kawan lamaku, <em>The Basic Introduction Of Theology</em>, dan aku terjebak diantara dirinya dan sebuah buku perenungan, <em>Born To Die</em>, yang ukurannya sama-sama mengerikan. Ah, tapi sudahlah. Hanya dari hal-hal general itu saja kami tahu kau menghargai kami, para buku.</p>
<p>Dan aku merasa sangat bersyukur dibeli olehmu, sungguh. Kau majikan terbaik yang bisa dimiliki oleh sebuah buku. Bukannya aku pernah melayani majikan lain selain dirimu, tolong jangan salah sangka, hanya saja aku sudah punya banyak pengalaman dibaca oleh teman-temanmu yang meminjamku darimu – sungguh, apakah mereka benar-benar bisa dianggap teman jika mereka memanggilmu kawan hanya saat mereka ingin meminjam buku atau memanfaatkan kecerdasanmu sementara mereka akan memanggilmu anak aneh di waktu berikutnya? Mereka pembaca yang buruk, harus kuakui. Mereka melipatku sembarangan, bahkan menyobekku. Tapi kau kemudian akan merawatku dengan baik setelah aku kembali padamu. Bukan hanya karena aku termasuk buku favoritmu – oh, apa aku lupa bilang kalau aku adalah sebuah novel filosofi? – tapi juga karena memang kau baik pada semua buku. Itulah yang membuat kami semua menyayangimu.</p>
<p>Walau mungkin kau tidak akan pernah tahu kalau kami menyayangimu.</p>
<p>Nah, aku sudah melantur terlalu jauh, ya? Mari kembali ke jalur yang seharusnya. Malam ini sepertinya pesta kisah tentangmu akan jadi sedikit lebih&#8230; heboh? Pasalnya sahabatku, si buku Diary berwarna coklat daun kering, hari ini menyelinap keluar dari rumahnya di laci di samping tempat tidurmu untuk bergabung di ruang baca. Kehadirannya memang tak terlalu aneh karena kadang si mungil-tebal itu suka bergabung untuk mendengarkan cerita – aku suka Diary, karena kodratnya sebagai buku diary membuatnya menjadi pendengar alami yang sabar dan tak pernah menjustifikasi sesuatu tanpa dianalisis terlebih dahulu. Tapi yang membuat kehadirannya agak berbeda kali ini adalah karena dia datang dengan hebohnya dan mengumumkan kalau malam ini dia yang akan bercerita.</p>
<p>Awalnya sebagian besar penghuni ruang baca sangsi akan level menarik dari cerita yang dimiliki sahabatku si Diary, karena walaupun kau itu orang yang sangat baik sekaligus cerdas luar biasa dan menguasai <em>nyaris</em> segala hal, satu-satunya hal yang tak kau kuasai adalah masalah bersosialisasi dengan sesama <em>homo sapiens</em> – ahemm&#8230; kurasa harus kucantumkan di daftar pustaka kalau kata yang terakhir itu kucatut dari istilah temanku, si <em>History For High School</em>, alias buku teks sejarahmu. Jadi si Diary yang kodratnya untuk tempat membekukan kepingan memori akan kehidupan sosial pemiliknya berubah fungsi menjadi tempat kumpulan resensi singkat ala dirimu tentang buku-buku yang baru kau baca – karena sepertinya temanmu hanya kami, majikanku yang malang. Oh, hal tentang Diary-alih-fungsi-menjadi-buku-resensi sering membuat si buku diary disogok sana-sini oleh penghuni baru agar dia mau membocorkan penilaian yang diberikan olehmu terhadap mereka. Tapi lagi-lagi sesuai kodrat alaminya sebagai buku diary si penjaga rahasia terhebat, dia selalu tahu bagaimana cara menghalau mereka.</p>
<p>Dan aku melantur lagi. Maklum, aku ini novel filosofi. Sifat alamiku adalah merenungkan semua yang terjadi dalam kehidupan a.k.a melamun.</p>
<p>Majikan menulis sesuatu yang aneh pada diriku hari ini! Perkataan itulah yang membuat seluruh buku di ruang baca mengernyitkan alis penasaran – tunggu! KAMI punya ALIS? Ah, personifikasi, baiklah – akan cerita apa yang sekiranya dibawa oleh si penjaga rahasia. Lagipula tidak biasanya si tuan-tutup-mulut itu (bukan berarti dia laki-laki, sih. Demi kertas, kami ini BUKU!) dengan gratis menyebar rahasiamu, jadi mungkin <em>memang</em> ada cerita menarik.</p>
<p>Ada resensi yang beda, lain daripada yang lain, dibandingkan biasanya? Ada yang bertanya, yang kemudian kusadari adalah si IQ Management: To Make You Smarter Than Any Time Before.</p>
<p>Oh, kau itu buku IQ Management! <em>Seharusnya</em> kau lebih pintar dari itu! Diary mendengus – whoa! Dia mendengus! DIA MENDENGUS! – dan si buku IQ pun surut ke belakang.</p>
<p>Kisah apa yang bisa kita renungkan malam ini, sahabatku? Aku memutuskan untuk angkat bicara sebelum yang lain mulai lagi dengan tebakan yang lebih konyol dan skeptis.</p>
<p>Oh, hai Sophie! Diary menyapaku ramah saat dia menyadari kehadiranku.</p>
<p>Hai, Eres. Aku balas menyapanya yang memanggilku dengan singkatan judulku – Sophie’s World – dengan nama yang kutahu kau berikan pada diary agar kau tak menulis kata-kata stereotype seperti “Dear Diary” di buku diarymu – kau suka semua yang tidak biasa, aku tahu. Ceritakanlah, sobat. Malam terus bergulir sementara kau harus kembali sebelum subuh agar majikan kita tak tahu kau menyelinap kemari.</p>
<p>Kau benar, sahabatku Sophie. Dia menyetujui logikaku – senang jadi novel filosofi. Baiklah, kalau begitu. Hari ini majikan tidak menulis resensi, karena dia hari ini tidak membaca apapun. Jangan tercengang dulu! Ini belum apa-apa! Diary – Eres – mengeluarkan isyarat ‘kalian <em>akan sangat</em> terkejut setelah ini’. Yang ditulis Majikan bukan tentang buku. Dia menulis tentang seseorang. SESEORANG! <em>Homo Sapiens!</em></p>
<p>Daftar pustaka, Eres. Kau mencatut istilah. Aku mengingatkan dengan bijaksana, yang sepertinya saat itu tidak menjadi cukup bijaksana karena aku segera mendapatkan pelototan maut – uh-oh, kenapa aku bisa lupa kalau aku sudah menandatangani perjanjian untuk membiarkan buku mempunyai MATA? Lihat apa yang kudapat – dari rekan-rekanku – alasan kenapa manusia tidak pernah melihat mata di buku milik mereka pasti demi kewarasan manusia itu sendiri, karena mereka takkan bisa tetap waras jika setiap hari harus dipelototi oleh buku-buku pelajaran mereka. Aku pun akhirnya mengatupkan kover kerasku dengan kencang sebagai isyarat menyerah – nah, kupikir aku akan menandatangani perjanjian agar aku punya BAHU untuk dikedikkan.</p>
<p>Hampir semua buku kaget mendengar berita terbarumu itu. Kau tidak pernah menulis tentang siapa pun dalam buku diary-mu. Kata kuncinya di sini adalah TIDAK PERNAH. Bagimu, yang termasuk dalam golongan sinis, manusia adalah sekelompok besar primata dengan penutup mata bertuliskan ‘paradigma’, ‘status sosial’ dan ‘ego-sentris’, makhluk yang hanya akan berkumpul dengan sesama ‘aturan’-nya dan akan menendang – bahkan mengisolasi – yang mempunyai bingkai pemikiran yang berbeda. Kau tidak pernah menyukai mereka – hasil penggabungan kromosom-kromosom itu, menurut si buku <em>Biology</em> – yang selalu mengkotak-kotakkan, mengklasifikasi segala sesuatu dengan alasan untuk mempermudah pengenalan namun sebenarnya adalah untuk menendang keluar apa pun yang tidak sesuai dengan ideal mereka. Kau tidak suka mereka, makanya kau tidak pernah menulis tentang mereka karena bagimu karakteristik mereka semua sama dan tidak dapat menarik perhatianmu lagi.</p>
<p>Makanya kami semua heran bagaimana mungkin ada makhluk sosial yang bisa membuatmu tertarik.</p>
<p>Tapi bukankah manusia itu memang <em>homo socius</em>? Wajar saja, kan, kalau kau suatu saat berinteraksi dengan mereka karena kau pun salah satu dari mereka?</p>
<p>Seperti apa manusia itu? Kromosom XX atau XY? Si <em>Genetic Biology</em> bertanya lebih dulu, murni penasaran.</p>
<p>Apakah Majikan menyukainya? Atau bahkan jatuh cinta padanya? Buku <em>Dating Tips</em> – aku sebenarnya masih heran kenapa kau yang introvert itu membeli buku sejenisnya – menyambung dengan desahan pengangan-angan.</p>
<p>Untuk Genetic, jawabannya XY. Uh, aku tidak perlu mencantumkan di daftar pustaka, kan? Eres mengernyit saat menjawab. Alasan kenapa dia – si penjaga rahasia terhebat – dengan enteng membocorkan rahasia majikan kami berada di luar jangkauan akal filsufku. Dan untuk <em>Dating Tips</em>, kurasa majikan tidak menyukainya. Dia <em>membencinya</em>.</p>
<p>Oke, frasa dengan huruf miring itu cukup membuktikan kalau hal yang dia sampaikan memang aneh – jangan tanya kenapa aku tahu Eres menggunakan format miring, kami buku menggunakan format tertentu untuk mengungkapkan emosi tertentu, seperti huruf besar untuk marah atau garis bawah untuk sesuatu yang penting, tapi seperti kalian tidak tahu kami saja. Pekikan kaget bergema dan beresonansi dalam ruangan – nah, untuk saat seperti ini kami banyak menggunakan tanda seru, oh sudahlah. Kami semua tahu walaupun kau bukanlah seorang sosialita dan tidak menyukai makhluk jenismu sendiri, kau tidak pernah membenci mereka, kau selalu mewajarkan segala tindakan aneh mereka. Lalu orang – laki-laki, untuk lebih detilnya – macam apa yang mampu membuatmu yang terkenal kalem dan berkepala dingin itu menjadi seperti ini?</p>
<p>Demi Tuhan, Majikan mempunyai teman? Aah&#8230; ini adalah berkah Tuhan! Buku Kitab agamamu, sesepuh kami semua para buku, mengucap syukur dengan khidmat pada penciptamu, walaupun sebenarnya penciptanya bukanlah penciptamu, melainkan salah satu hasil ciptaan penciptamu. Ya ampun, sistematika dunia ini rumit sekali, ya?</p>
<p>Bukan teman kurasa, Kakek Kitab. Eres berujar ragu-ragu, sungkan pada sesepuh kami yang terkenal bijaksana dan arif itu – sesuai dengan kodratnya sebagai Kitab penuntun umat kepada kebaikan. Majikan kita kesal padanya karena orang itu sok akrab dengannya, padahal menurut Majikan dia juga sama saja dengan teman-temannya yang lain, yang akan segera membuangnya begitu mereka selesai memanfaatkannya.</p>
<p>Padahal anak itu sering membacaku, tapi kenapa dia terus berburuk sangka pada saudaranya sendiri? Kakek Kitab menghela nafas berat, dia kelihatan kecewa karena kau sepertinya tak mengamalkan apa yang telah dituliskan padanya dengan sempurna – terlepas dari segala kesempurnaanmu. Yah&#8230; menurutku sih&#8230; tidak mungkin kau akan menuruti semua hal yang dituliskan pada kami, kan? Toh kau juga punya argumentasi dan pandangan-pandangan tersendiri akan hidupmu. Tapi aku tidak akan selamat kalau bicara itu terang-terangan di depan Kakek Kitab.</p>
<p>Dia akan jatuh cinta, Eres, percayalah! <em>Dating Tips</em> bersorak gembira, seakan yakin pada pernyataannya, tapi dia memang master dari segala master dalam urusan emosi manusia yang satu itu, sih. Orang yang berawal dari saling benci bisa berakhir jatuh cinta satu sama lain karena kuatnya perasaan mereka! Dan aku percaya si-tuan-siapapun-namanya itu bisa membuat Majikan kita jatuh hati! Kau sendiri yang bilang kalau Majikan kesal karena dia mendekatinya terus. Jika dia bertahan, mungkin dia bisa dekat dengan Majikan!</p>
<p>Dan namamu akan berubah menjadi Eros! Buku <em>Ancient Greek Myth: Stories Collection</em> meledek sang diary. Katakan, siapa nama laki-laki beruntung – dan mungkin juga sial – itu?</p>
<p>Uh-duh. Benarkah Majikan bisa jatuh cinta padanya? Kedengarannya agak&#8230; tidak benar untukku. Maksudku, kodratku memang sebagai tempat curhat masalah yang seperti ini, tapi Majikan? Dengan laki-laki itu? Aduh. Kernyitan Eres makin dalam, entah kenapa dia bisa tidak menyukai kenyataan bahwa dia akhirnya akan dipakai secara normal olehmu, mungkin dia sudah ketularan sifat abnormalmu hingga dia benci menjadi normal. Aku tidak suka ada warna pink bertebaran di tubuhku&#8230;</p>
<p>Ooh&#8230; itu alasannya&#8230;</p>
<p>Dan Majikan menyebutnya ‘si menyebalkan’, uh&#8230; itu bukan nama yang bagus, kan? Apa yang orang tua laki-laki itu pikirkan saat menamai anak mereka ‘si menyebalkan’? Eres berujar lagi, membuatku ingin memutar bola mata yang kudapat dari perjanjian personifikasi itu. Aku&#8230; tidak suka Majikan berteman – bahkan jatuh cinta – pada orang dengan nama yang berdenotasi negatif. Benarkah Majikan bisa jatuh cinta pada orang dengan nama seperti itu?</p>
<p>Tentu saja benar! Kau pikir kau mencoba menentang siapa, hah? Akulah dewa cinta di sini! <em>Dating Tips</em> mengibaskan halaman-halamannya cepat dengan sombong. Takkan ada yang menentangnya, tentu saja, karena memang cuma dia yang mengerti masalah seperti ini – terlepas dari kenyataan bahwa dia tolol total untuk masalah di luar percintaan.</p>
<p><em>Well&#8230; let’s see what will happen, then&#8230;</em> Buku <em>English For Advance</em> menyahuti dari tempatnya dengan logat Inggrisnya yang kuat. <em>There’s nothing to do but wait, anyway&#8230;</em></p>
<p>Buku yang lain mengangguk setuju akan pendapatnya – tolong jangan tanya kenapa aku bisa mengerti bahasanya walaupun kami diciptakan dengan default bahasa yang berbeda, itu juga masih misteri bagiku, penerjemah bebas antarbuku, sepertinya.</p>
<p>Baiklah, kalau begitu pertemuan hari ini ditutup! Silakan kembali ke tempat kalian masing-masing! <em>How To Be A Leader</em>, yang kami daulat sebagai pemimpin yang berhak mengambil ataupun menyetujui segala keputusan segera membubarkan pertemuan malam ini, karena semburat fajar mulai terlukis di langit yang terlihat dari jendela perpustakaan. Dan kau, Diary, aku minta kau tidak pelit untuk masalah yang satu ini, tolong kabari kami jika Majikan menulis sesuatu tentang orang itu lagi.</p>
<p>Baik, Tuan Leader. Diary memberi penghormatan terakhir sebelum meloncat turun dari sofa yang biasa kau duduki saat kau membaca buku, sofa yang tiap malam kami jadikan podium bagi para buku yang ingin bercerita karena memang sofa <em>single</em> itu adalah satu-satunya tempat yang tepat berada di tengah ruangan. Buku-buku yang lain pun dengan gemerisik gumaman kembali dengan teratur ke tempatnya masing-masing, pikiran masih tertuju pada cerita Diary barusan, sudah cukup lama kami tidak mendapat berita menghebohkan seperti ini – mungkin sejak berita Majikan senior, kedua orangtuamu, meninggal dalam kecelakaan, hal yang membuatmu hingga kini begitu mendamba jemputan sang maut.</p>
<p><em>Just wait we do then&#8230;</em></p>
<p>Ya ampun, apa aku baru saja merubah default bahasaku?</p>
<p><em>First part dedicated to Alin, my forever writing muse, who gladly lent me  her novel, Sophie&#8217;s World, which never ceased to amaze me until now.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>A/N:</p>
<p>Harusnya aku ngerjain tugas, lho. Tapi lihat apa yang kuperbuat sekarang. *sigh* Well, karena aku merasa telah menelantarkan blog ini <em>terlalu</em> lama, makanya aku memutuskan untuk publish novelette yang udah agak lama mengendap di komputerku. well&#8230; *sigh*</p>
<p>Untuk dialog para bukunya, aku memang sengaja nggak pake tanda petik. Maaf kalau keisenganku ini bikin kalian bingung. Aku mau nyoba gayanya Dee, sih, sebenernya &#8211; yang gagal total kucoba.</p>
<p>Yah&#8230; inilah yang akan terjadi kalau kamu mendengarkan <em>Cold As You</em>-nya Taylor Swift disaat kamu lagi sekarat karena kekurangan buku, dan habis baca cerpennya kak Pratz&#8230;</p>
<p>So&#8230; ada yang mau lanjutannya? Review. =)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/phoebeyuu.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/phoebeyuu.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/phoebeyuu.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/phoebeyuu.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/phoebeyuu.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/phoebeyuu.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/phoebeyuu.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/phoebeyuu.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/phoebeyuu.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/phoebeyuu.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/phoebeyuu.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/phoebeyuu.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/phoebeyuu.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/phoebeyuu.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=phoebeyuu.wordpress.com&amp;blog=4496336&amp;post=56&amp;subd=phoebeyuu&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://phoebeyuu.wordpress.com/2010/06/23/kisah-tengah-malam-novelette-part-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/30b1486996793cea1ec85a3df9dd9b3f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">phoebeyuu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
