“Deimos! Suara tembakanmu mengganggu konsentrasiku!” Deimos menengok dan menemukan sosok Eridanus, teman sejak kecilnya tengah merengut marah ke arahnya. Tangan kanan anak laki-laki berambut coklat sepunggung itu masih memegang biolanya, posisinya menunjukkan kalau ia baru selesai memainkan biolanya. Deimos hanya mendesah pelan. Ia sekarang jadi suka berlatih menembak kapan pun dan dimana pun semenjak ayahnya memperlihatkannya Orion dua tahun yang lalu. Ia ingin menjadi orang kedua setelah ayahnya yang masih bisa hidup walaupun memakai Orion.
“Aku bosan.” gumam Deimos sambil menyimpan senjatanya dan berjalan ke arah temannya yang kini tengah berdiri di bawah sebuah pohon rindang. “Berhentilah latihan biola, ayo kita main sesuatu. Kau makin lama makin mirip Phobos.”
Eridanus manyun. “Siapa juga yang bikin aku jadi suka biola? Kamu, tahu!”
Ekspresi Deimos menyendu. Bola mata peppermintnya meredup. “Maaf.”
“Ah, sudahlah.” Eridanus berusaha menghentikan pembicaraan sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Kamu juga. Sejak 2 tahun yang lalu kamu jadi makin getol latihan menembak. Padahal dulu kamu lebih sering kabur untuk main bersamaku kalau ayahmu mengajakmu latihan.”
“Hmm … yah … ada yang ingin kudapatkan …” Deimos kembali bergumam tanpa melihat Eridanus. Sahabatnya memberikan pandangan ‘minta penjelasan’, tapi Deimos tetap tak memberikan tambahan apa-apa hingga Eridanus akhirnya menyerah. Tapi kemudian ia mengerling sahabatnya dan tersenyum samar. “Tapi sekarang kan liburan. Ayo main sesuatu.”
“Kau nggak latihan sama ayahmu? Tumben.” tanya Eridanus sambil memasukkan kembali biolanya ke dalam kotaknya.
“Ayah mau mengurus pekerjaan, katanya.” Deimos memandang ke arah sebuah rumah sederhana di kejauhan, rumah peristirahatan keluarganya yang sering ia dan keluarganya gunakan untuk liburan. “Lagipula tadi ada tamu.”
“Ketua Slavery Freedom, pasukan elit militer, itu sibuk, ya.” gumam Eridanus. Ia mengikuti arah pandangan Deimos sebelum akhirnya dikembalikan lagi pada sahabatnya, pada scraf biru yang menggantung di leher Deimos, tepatnya. “Kau kan juga sudah resmi jadi prajurit Slavery Freedom. Nggak sibuk?”
“Aku kan masih prajurit rendahan.” sahut Deimos.
“Letnan satu di usia 13 tahun kau bilang rendahan? Harusnya anak umur 13 tahun itu masih jadi prajurit biasa.” protes Eridanus, yang hanya ditanggapi dengan senyum samar oleh Deimos. Mata anak berambut hitam itu masih terus memandangi rumahnya.
“Tamunya pulang.” gumamnya kemudian. Mata besar Eridanus, yang juga berwarna peppermint seperti milik Deimos, segera mengikuti arah pandang Deimos dan melihat beberapa orang dengan jubah panjang berjalan cepat meninggalkan rumah peristirahatan milik keluarga Deimos. Deimos kemudian memandang ke arah Eridanus. “Main di rumah?”
“Boleh.” jawab Eridanus sambil tersenyum. Deimos mengangguk dan kemudian berkelebat dengan jubah coklatnya mendahului sahabatnya. Eridanus menyusul di belakangnya.
Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba kedua anak itu mendengar suara letusan senjata. Deimos tahu betul itu suara dari Orion. Ayahnya menggunakan Orion. Pasti ada sesuatu yang gawat!
“Ayah!” Deimos berteriak dan secepat kilat berlari menuju rumahnya. Eridanus juga mempercepat larinya, berusaha mengejar Deimos yang tiba-tiba menaikkan kecepatan. Tapi memang dasar Eridanus tidak pintar olahraga dan karena kecepatan Deimos dalam berlari memang luar biasa, akhirnya ia tertinggal jauh dari temannya yang kini sudah melesat memasui rumah. Saat itu Eridanus melihat sekitar dua-tiga orang meloncat keluar setelah memecahkan jendela, yang Eridanus tahu, adalah jendela kamar ayah Deimos. Orang-orang itu kemudian dengan cepat berlari menjauh dari rumah itu sebelum akhirnya menghilang dari kejaran akomodasi mata Eridanus.
Deimos berlari memasuki rumah dengan kalap. Telinganya menangkap suara perkelahian yang berasal dari kamar ayahnya. Ia berlari secepat yang ia bisa. Ayahnya hebat, ia tahu itu. Tapi akan lebih baik kalau ia bisa segera ada di sana dan membantu ayahnya. Toh ia juga lumayan hebat dalam menembak.
Saat ia berlari di lorong menuju kamar ayahnya, tempat suara pertarungan itu terdengar, ia menyelipkan tangannya ke jubah coklatnya dan mengambil sebuah SIG untuk bersiap-siap. Ketika itu ia mendengar suara kaca jendela kamar ayahnya pecah. Apa yang terjadi? Apa kaca itu pecah akibat serangan salah satu dari orang-orang yang berkelahi itu? Atau orang yang dilawan ayahnya melarikan diri dengan cara memecahkan jendela?
Deimos sampai di depan kamar ayahnya. Sepi. Semua suara pertarungan yang tadi ramai terdengar sekarang hilang sama sekali. Pintu kamar ayahnya tertutup, tapi jelas ada puluhan bekas cabikan di sana. Deimos mempersiapkan dirinya dan mempererat genggamannya pada SIG di tangannya. Lalu dengan satu tendangan keras, ia mendobrak pintu kamar ayahnya kemudian mengacungkan pistolnya, bersiap seandainya masih ada musuh di dalam.
Dengan cepat Deimos meneliti ruangan. Sepi. Ternyata orang yang berkelahi dengan ayahnya sudah melarikan diri lewat jendela. Kamar ayahnya penuh cabikan. Ia melangkah lebih ke dalam untuk lebih mempertegas situasi. Dan setelahnya ia harus terkejut setengah mati pada apa yang dilihatnya.
“Dei … mos …”
“A-a … yah …?” mata hijau Deimos membelalak lebar, tak siap dengan pemandangan yang tersaji di depan matanya. Ayahnya terduduk lemas di lantai, bersandar pada salah satu dinding kamar, tepat di bawah sebuah pigura raksasa berisi foto ayah dan ibunya. Cairan berwarna merah segar yang Deimos kenal sejak dulu sebagai darah mengalir deras tanpa henti dari dada kiri ayahnya yang terlihat terkoyak oleh sesuatu. Aliran darah ayahnya terus mengalir menggenangi lantai, dan beberapa percikan darah juga terlihat di dinding di sekitar tempat ayahnya terduduk. Realisasi dari kejadian yang baru saja dilihatnya segera menyerang Deimos. Ayahnya terluka! Dengan cepat Deimos segera berlari mendekati ayahnya dan kemudian segera berjongkok di depan tubuh tak berdaya ayahnya.
“Ayah! Ke … kenapa …? Kenapa darah Ayah banyak keluar begini …?” Deimos tak bisa mengontrol kata-kata yang keluar dari mulutnya. Matanya masih terbelalak lebar. Pikirannya kosong. Bahkan SIG di genggamannya terlepas, terlupakan begitu saja. Ayahnya hanya tersenyum lemah. Dengan tangan yang tadinya digunakan untuk menekan luka di dadanya, ayahnya meraih wajah Deimos dan mengelus rambut Deimos lemah sebelum akhirnya turun ke pipi anak laki-laki itu, meninggalkan jejak darah.
“Maaf – kan … Ayah …. Deimos …” ujar ayahnya dengan suara lemah yang terputus-putus. Tangannya masih sibuk mengusap pipi putranya dan membiarkan darahnya tertinggal di wajah pucat putranya. “Ternyata … aku … tak bisa … bertahan …”
“Tidak!” sergah Deimos segera. Entah kenapa kekeraskepalaannya malah muncul di saat seperti ini. Genangan air mulai menimbun di pelupuk mata anak laki-laki itu, air mata. Padahal sudah lama ia tidak menangis, sudah lama ia lupa bagaimana caranya menangis. Kenapa sekarang ia harus menangis? “Ayah harus bertahan! Eridanus, panggilkan dokter atau apa saja yang bisa menyembuhkan ayahku! CEPAT!”
Eridanus, yang baru saja datang dengan terengah-engah dan masih belum bisa mengerti dengan jelas situasi yang terjadi, saking kagetnya dibentak oleh Deimos akhirnya kembali berlari keluar kamar, entah apakah ia akan benar-benar bisa memanggil dokter dengan kondisi linglung seperti itu.
“Sudahlah …” ayah Deimos tersenyum lemah sekali lagi. “Aku tahu … aku tak mungkin bertahan …”
“Harus!” Deimos kembali membentak ayahnya. Padahal selama ini ia sama sekali tak pernah bicara dengan suara lebih keras dari ayahnya, tapi kali ini berbeda. Ia tak peduli lagi pada ‘peraturan ayah dan anak’ atau apa pun. Ia harus menolong ayahnya! Dengan pikiran itu, ia segera meraih bandul kalung yang dipakainya sejak dulu. Deimos memejamkan matanya, dan tiba-tiba saja bandul kalung itu bersinar kehijauan. Jarum jam yang berada di dalam bandul kaca bulat itu berputar cepat tak terkendali. Esensi sihir seketika terasa memenuhi ruangan itu, dengan pusat energi yang berasal dari Deimos. “Aku akan menggunakan Time Roulette dan menyelamatkan Ayah! Aku akan memberikan ‘waktu’-ku agar Ayah bisa bertahan setidaknya sampai dokter datang!”
“Jangan … Deimos …” ayahnya berusaha menghentikannya dengan meremas pundak putranya, dengan kekuatannya yang tersisa. “Kekuatan sihir – mu … belum kuat untuk … menahan … efek dari … ‘pemberian … waktu’ …”
“Aku bisa melakukannya!” bantah Deimos keras. “Aku bisa menyelamatkan Eridanus dulu dengan Time Roulette dan sihirku! Sekarang aku akan menyelamatkan Ayah! Aku pasti bisa!”
“Hentikan …!” suara ayahnya sedikit menguat. Pandangannya pun terlihat menguat, sekuat yang bisa ia lakukan dalam keadaan kritis seperti itu. “Kau … kehilangan … banyak … kekuatan sihir … saat berusaha … menolong … Eridanus … dan kalau kali ini kau meng – gunakannya … lagi … kau bisa … mati. Hentikan …!”
“Tidak mau! Lebih baik aku mati daripada kehilangan Ayah!” dengan itu Deimos membuka matanya, memperlihatkan mata hijau peppermintnya yang menggelap dan hampa. Esensi sihir yang memancar dari dirinya makin menguat. Beberapa saat kemudian ia mulai menggumam. “Time Roulette Activated. Found Command of Time`s Replacement. Command Number: 13 ¾”
“DEIMOS!!!” ayahnya tak tahu lagi bagaimana cara menghentikan putranya. Akhirnya ia hanya bisa berteriak sekuat tenaga sambil mengarahkan Orion yang sedari tadi dipegangnya dan menembakkan sebuah peluru yang menyerempet sedikit pipi kiri Deimos dan berakhir dengan berdesing menabrak dinding di seberang ruangan. Untungnya cara itu berhasil menghentikan Deimos sebelum anak laki-lakinya menyelesaikan perintah pengaktifan Time Roulette-nya. Tapi ternyata cara yang satu itu cukup membuat kondisinya bertambah buruk. Darah mulai masuk ke tenggorokannya, membuatnya tersedak dan mulai terbatuk, untuk mengeluarkan darah itu.
“Ayah!” Deimos yang baru sadar dari keadaan pengaktifan Time Roulette, menyadari kondisi ayahnya bertambah buruk, segera meletakkan tangan kanannya di luka ayahnya, berusaha menghentikan darah yang mengalir dari tubuh ayahnya sementara tangan satunya lagi masih menggenggam bandul kalungnya. “Kenapa Ayah menghentikanku!? Aku akan menyelamatkan Ayah!”
“Jangan … sudahlah …” suara ayahnya kembali melemah, dan kali ini lebih lemah dari sebelumnya. “Sekarang … aku ingin … kau mendengarkanku …”
“Jangan bicara lagi, Yah. Nanti lukanya makin parah!” Deimos kembali membentak ayahnya yang kembali terbatuk setelah mengucapkan kalimatnya. Beberapa bulir air mata mulai jatuh membasahi pipinya.
“Deimos! Dengarkan aku!” suara ayahnya kembali menguat, penuh dengan dominasi kekuasaan seperti yang selama ini hanya dikeluarkan untuk bicara dengan anak buahnya. Walaupun untuk itu konsekuensinya ia harus kembali terbatuk. Deimos kali ini menurut dengan enggan. Air matanya masih belum bosan mengalir. Ayahnya kemudian mengacungkan Orion ke depan hidungnya. “Ini … bawalah … Orion … untukmu …”
Melihat pistol hitam berornamen itu, emosi Deimos segera menggelegak. “Aku tak mau pistol pembawa sial itu! Pistol itu kan yang membuat Ayah jadi seperti ini!? Pistol itu mengikat Ayah dalam kutukannya!”
“Bukan, Deimos … bukan karena kutukan … aku kalah … karena kelemahanku …” ujar ayahnya terputus-putus. “Bawalah Orion … tunjukkan padaku … kalau kau … punya kekuatan … untuk menolak … kutukannya …”
Deimos terdiam. Tapi setelah ayahnya meyakinkannya dengan lebih menyorongkan pisrol itu lebih ke depannya, akhirnya ia menerimanya. Akhirnya ia merasakan Orion di tangannya untuk pertama kalinya.
“Dan … mau berjanji … satu hal lagi … padaku …?” ayahnya tersenyum samar di sudut bibirnya, berusaha keras untuk mengembangkannya. Deimos mengangguk. “Maukah … kau menjaga … Slavery Freedom … untukku …?”
“Baiklah …” Deimos menjawab dengan lemah.
“Anak baik …” kali ini ayahnya kembali berusaha meraih wajah Deimos, namun hanya berhasil sampai di tengah-tengah. Energinya yang tersisa sudah tak memungkinkannya untuk berhasil mencapai wajah putranya. Deimos segera meraih tangan ayahnya dan meletakkannya di wajahnya, di pipinya. Ayahnya tersenyum. “Tolong … jaga … Slavery Freedom … tetap sebagai … organisasi … yang mendahulukan – kan … kepentingan rakyat … kau … mau, kan … Deimos …?”
Deimos mengangguk sekali sebelum menguatkan pandangannya sekaligus genggamannya pada tangan ayahnya. Ia kemudian mengucap sebuah sumpah ala prajurit Slavery Freedom. “Aku, Letnan Satu Deimos, prajurit setia kerajaan dan Slavery Freedom, dengan ini bersumpah akan selalu menjaga dan mengawasi Slavery Freedom agar tetap menjadi organisasi elit militer kerajaan Satelles yang mengabdi setia pada kerajaan dan mendahulukan kepentingan rakyat!”
“Kudoakan …. yang terbaik … untukmu … wahai … prajurit Slavery Freedom … yang berani …” ayahnya membalas sumpah Deimos selayaknya pimpinan utama yang menerima sumpah dari anak buahnya. Ayahnya kemudian tersenyum dan mengerahkan segenap kekuatannya yang masih tersisa untuk mengusap wajah putranya untuk terakhir kalinya.
“Terima kasih … Pimpinan Tertinggi Slavery Freedom Yang Mulia …” Deimos menunduk dalam dengan hormat. Air matanya yang mengalir deras seakan mengiringi detak jantung ayahnya yang berdetak semakin lambat, sebelum akhirnya benar-benar berhenti. Deimos membuka matanya dan mendongakkan kepalanya. Ia melihat wajah pucat ayahnya yang tersenyum dalam keabadian. Setidaknya Deimos masih bersyukur ayahnya bisa pergi dengan tersenyum. Dengan air mata yang masih mengalir deras di pipinya, ia susah payah mengembangkan sebuah senyum kecil di bibir merah mungilnya. Sebuah senyum tulus yang selama ini bahkan tak ada satu orang pun yang pernah melihat senyum itu pernah bermain di bibirnya. “Selamat tinggal, Ayah.”
Setelah meletakkan tangan ayahnya, ia segera bangkit sambil meraih Orion yang di beberapa bagian masih bermandikan darah sang ayah. Ia berjalan ke arah jendela yang tadi pecah diterobos oleh orang yang telah membunuh ayahnya. Pandangannya mendingin. Mata peppermintnya menggelap. Ekspresinya menguat dengan hebat, ekspresi yang sebenarnya tak mungkin bisa ditunjukkan oleh anak yang baru menginjak umur 13 tahun.
“Berani-beraninya membunuh ayahku …” suaranya dalam dan rendah. Siapa pun yang mendengarnya saat itu pasti akan langsung membeku di tempat karena ketakutan. Meskipun begitu, air matanya masih mengalir. “Aku bersumpah akan menemukan dan membunuh siapa pun orang yang telah membunuh ayahku! AKU BERSUMPAH!”
Setelah selesai mengucapkan itu, Deimos segera membidikkan Orion ke jendela yang kini telah pecah dan menembakkan beberapa peluru melewati celah yang terbuka. Deimos terus menembak tanpa henti bersamaan dengan air matanya yang makin deras mengalir.
Dan akhirnya ke-13 tembakan yang menggema di udara hari itu menjadi saksi satu-satunya dari luka yang selamanya takkan pernah bisa disembuhkan oleh siapa pun.
END
A/N: Hahahaha … inilah sekuel dari Orion`s Legend. Endingnya sengajaaaa….. cerita ini ada hubungannya sama salah satu chapter di novelku, tapi ga terlalu ada hubungannya, sih. ehehehehe…
Psst … aku nangis waktu bikin cerita ini. Kalau kalian ga nangis bacanya, bararti aku yang terlalu melankolis. Nyaaaaa……..
Komentar Terakhir