The World Which Nothing Without Words

Just another WordPress.com weblog

Selamat Malam Mei 22, 2009

Filed under: Short Story — Phoebe Yuu @ 6:54 am
Tags: , ,

Inspired by Maroon 5 song, Goodnight Goodnight.

 

Sampai sekarang aku masih belum bisa melupakannya. Mengenang ekspresinya seperti luka yang tetap tak akan bisa sembuh walaupun sudah belasan kali kujilat dan kuobati. Dan luka itu terus berkembang menjadi sebuah perasaan bersalah yang akan terus menggelayuti setiap rongga tubuhku, menciptakan lubang-lubang baru yang disebut kehampaan. Namun memang mungkin… ia jadi seperti itu sepenuhnya adalah kesalahanku… kesalahan kami…

Setiap kali aku pulang ke rumah sehabis bekerja, aku dan wanita yang dulunya kucintai – dulunya, karena sekarang aku sendiri merasakan perasaan itu sebagai suatu kehampaan yang memuakkan – akan memulai pertengkaran kami yang berdasarkan pada topik-topik yang telah lama berlalu namun masih membekas di hati, atau bahkan hanya karena masalah remeh yang kelihatannya seperti pertengkaran anak-anak – atau orang dewasa yang masih merindukan cara hidup jaman kanak-kanan. Dan ia… ia akan berada di balik dinding tak jauh dari tempatku bertengkar dengan wanita yang telah melahirkannya. Tangan mungilnya akan mencengkeram pinggiran dinding begitu erat seakan-akan ia ingin menghancurkannya dengan genggaman tangan rapuhnya. Seluruh tubuhnya akan tersembunyi dari pandanganku hanya dengan menyisakan sedikit bagian kepalanya yang muncul takut-takut. Mata hitamnya membulat sempurna dalam sinar yang bisa kutebak dengan pasti sebagai ketakutan level akut.

Saat aku memergokinya mengintip pertengkaran kami, aku dengan segera akan mennytop pertengkaran kami dan memanggilnya dengan senyuman seolah tak pernah terjadi apa pun, padahal aku tahu benar ia telah mendengarkan separuh akhir pertengkaran kami yang penuh dengan saling tuduh dan sumpah serapah yang tak pantas masuk ke telinga kecil murninya. Ia pun akan segera menghilangkan rona ketakutannya dan memasang sebuah senyum manis terpaksa, yang kemudian disusul dengan memunculkan tubuhnya yang dibalut dengan rok terusan berenda imut. Sikap tubuhnya santun, seolah ia berasal dari keluarga baik-baik saja. Dan kami memang begitu, tapi itu dulu sekali.

Dengan kedua tangan tersimpan di balik punggungnya dan senyum terpaksa yang semakin dilebar-lebarkan seolah berusaha melupakan apa yang telah dilihatnya, ia mengucapkan selamat malam dengan bibir mungil merahnya dan suara kecil lembutnya sebelum berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Hanya ujung rok berendanya yang dapat kutangkap karena kaki kecilnya ternyata bisa membawa tubuhnya terlalu cepat dari perkiraanku.

Setelah itu, aku tak pernah berusaha menyusulnya dan menjelaskan apa yang tadi telah dia lihat. Aku tak pernah melakukannya. Aku hanya diam di ujung tangga. Karena aku takut melihat apa yang terjadi padanya setelah melihatku berada dalam kondisi terparahku. Aku takut melihat ekspresi yang menyambutku jika aku masuk ke kamarnya. Aku selalu melihatnya saat pagi menjelang sebelum ia bangun dari tidurnya. Setiap kali ia baru menyaksikan kami bertengkar, paginya kamarnya akan hancur berantakan seakan kamar itu adalah milik anak gila. Dan itu semakin membuatku takut menemuinya malam sehabis ia memergoki kami.

Sampai sekarang aku masih belum bisa melupakan ekspresinya ketika suatu hari aku masuk ke kamarnya bersama wanita yang sering dia panggil “Mama” untuk menyampaikan berita bahwa mungkin aku takkan bisa setiap hari bertemu muka dengannya seperti biasanya karena aku takkan tinggal di tempat berlindung yang kami sebut “keluarga” lagi.

Dia terdiam. Mulut mungilnya tertekan hingga membentuk sebuah garis tipis. Rambut lurus sepunggungnya menempel erat di kontur wajahnya, membingkai ekspresi tenangnya yang tak alami. Matanya setenang eksrepsinya tapi aku bisa melihat kilatan amarah melintas cepat berulang-ulang di sana. Tangannya mencengkeram seprai tempat tidurnya hingga kepalannya berubah warna menjadi putih. Hanya satu yang sempat keluar dari mulutnya. Satu kalimat singkat. Selamat malam.

Melihatnya seperti itu, perasaan takut kembali melandaku. Dan lagi-lagi aku hanya bisa lari. Aku segera keluar dari kamarnya tanpa mempedulikan apa yang akan terjadi padanya setelah itu. Aku hanya bisa meminta maaf dalam hati, jika aku telah menyakiti gadis kecilku.

Lalu yang aku tahu berikutnya, kamarnya kembali hancur berantakan dengan seluruh perabotan rusak dan kasur yang bergeser ke arah yang tak wajar.

Saat akhirnya aku pergi membawa seluruh jiwa dan ragaku keluar dari sebuah ikatan batin yang disebut keluarga, membiarkan ikatan itu terputus dan tercerai berai di jalanan, ia mengantarku sampai ke tepi rumah, namun tak menangis. Ia tidak menangis, tapi di matanya kembali terlintas kilatan-kilatan yang lebih menyayat hati dibanding saat aku melihat anak yang menangis meraung-raung. Aku tertawa ironis dalam hati. Dia, gadis kecil dengan rok terusan berenda di hadapanku, belum mencapai umur belasan, tapi ekspresinya selalu berhasil membuatku ketakutan sampai ke tulang sumsumku.

Sebelum masuk ke sebuah taksi biru yang akan membawaku pergi sepenuhnya dari ikatan yang beberapa tahun yang lalu kuusahakan dan kudambakan mati-matian, aku tersenyum semanis yang kubisa pada gadis kecilku, berkata bahwa aku pasti akan mengajaknya main dan menginap di ‘keluarga’ baruku sesering mungkin. Ia hanya membalas tersenyum dengan senyuman manisnya yang dipaksakan dan kembali mengucapkan “selamat malam”.

Tadinya aku bingung atas ucapannya. Kenapa ia mengucapkan selamat malam padahal aku pergi di pagi hari? Kalau ingin mengucapkan kata perpisahan kenapa tidak “Sampai ketemu lagi” atau “Selamat tinggal”?

Kata-kata yang sepertinya menjadi favoritnya itu terus ia gunakan bahkan sampai sekarang. Tiap kali aku mengundangnya ke rumahku untuk melepas kangen denganku, dia selalu mengatakannya sebagai pengganti kata “selamat tinggal” saat ia akan pulang ke rumah ibunya, dengan senyum yang terus pura-pura.

Saat aku mengajaknya bermain di hari-hariku bersamanya, ia akan tertawa dan tersenyum seperti gadis kecil pada umumnya. Dia akan menari lincah mengelilingi halaman rumput rumahku yang luas. Tapi ada satu hal yang tetap terasa hilang sekarang. Senyumnya tak pernah segembira dulu. Tawanya tak pernah lagi melepaskan isyarat kebahagiaan seperti yang selama ini terlepas dari belenggu tenggorokannya saat kami masih manjadi keluarga yang sebenarnya.

Suatu ketika dalam kunjungan rutinnya ke rumahku, aku memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya di tengah malam dan berusaha berbicara dengannya tentang hal-hal yang tak pernah kubicarakan karena takut, pada akhirnya hanya mengantarkan kami ke dalam sebuah kesunyian yang memenuhi seluruh kamar. Berada dalam kesunyian seperti itu membuat kami tenggelam dalam pemikiran masing-masing, dan anehnya, membuatku mengingat kembali masa-masa dimana kami masih menjadi keluarga utuh yang bahagia. Hari-hari dimana rasanya hidup terasa sangat lengkap saat ada gadis kecilku dan ibunya. Hari-hari dimana aku pertama kali bertemu wanita yang dulu kucintai dan merasakan perasaan yang rasanya seperti seluruh dunia ikut bergembira bersamamu. Aku tak tahu apa yang gadis kecilku pikirkan dalam jangka waktu senyap itu. Ekpresinya terlalu beku untuk dibaca.

Aku akhirnya menoleh ke arahnya. Memperhatikan wajahnya seperti ini membuatku teringat akan wanita hebat yang telah melahirkannya. Parasnya sangat mirip dengan ibunya. Tapi lagi-lagi, tak ada perasaan apa pun yang masuk ke rongga hatiku kala aku mengingat ibunya. Apa benar perasaan yang disebut cinta untuk ibunya sudah benar-benar habis tak bersisa?

“Setiap pagi… aku selalu bangun dengan harapan bisa bertemu denganmu.” Aku akhirnya membuka topik. Gadis kecilku yang tadinya tengah bergelung di sudut tempat tidur menoleh perlahan ke arahku. Wajahnya tanpa ekspresi. Aku berusaha tersenyum. “Aku selalu merindukanmu, gadis kecilku. Kau merindukanku?”

Gadis kecilku mengangguk perlahan hingga rambut hitamnya menari lembut mengikuti goyangan kepalanya. “Tapi ada yang lebih aku rindu daripada Papa.”

Ada setruman yang menjalar di seluruh tubuhku saat aku mendengarnya. Ada yang lebih dipikirkan gadis kecilku  dibanding diriku, entah kenapa membuat perutku merasa sedikit mulas. Obsesivitas seorang ayah kah?

“Siapa?” tanyaku lembut sambil mengusap rambutnya.

Gadis belum genap 10 tahun itu tiba-tiba menggeliat dari sentuhanku dan merangkak menuju tengah tempat tidur. Dia mengulurkan tangannya ke bawah bantal dan membawa keluar sebuah benda persegi yang tak dapat kulihat karena tersembunyi siluet tubuhnya. Dia menyimpan benda yang diambilnya tadi dalam dekapannya sambil kembali merangkak ke tempatnya semula. Setelah kembali ke posisi bergelungnya yang tadi, di tempat yang sama, ia mengulurkan benda yang tadi diambilnya padaku. Aku menerimanya dan terhenyak saat melihatnya. Itu adalah pigura foto kecil tempat tersimpannya foto keluarga utuh kami yang dulu. Aku memandangnya penuh tanda tanya.

Mata gadis kecilku kembali berkilat. Namun kali ini kilatan yang lewat sekelebat itu tak dapat kutangkap maknanya. Ia menatapku penuh-penuh dengan mata hitam bulat sempurnanya. “Yang aku rindu adalah Papa yang dulu… Mama yang dulu… Kita yang dulu…”

Seketika seperti ada guntur besar yang menyambar tubuhku, menggetarkan hatiku. Apa ini? Anak ini merindukan keluarga kami yang dulu? Bukankah seharusnya anak-anak masih tidak bisa peduli akan hal semacam ini? Bukankan katanya hanya dengan sedikit modifikasi prinsipil, anak-anak akan dengan cepat melupakan hal-hal buruk di masa lalu dan menerima dengan senang hati hal-hal yang baru? Bukankah seharusnya anak-anak akan menuruti apa saja kata-kata orang tuanya? Dan tentu saja aku yakin ibunya pasti telah mencekokinya dengan hal-hal yang indah, yang jauh lebih indah dibanding ingatan mengerikan tentang perceraian kami. Dan aku pun telah melakukan berbagai cara untuk membuatnya lupa akan kenyataan bahwa keluarga kami yang dulu sudah takkan pernah ada lagi.

Dalam ketertegunanku aku kembali memandangi gadis kecilku yang kini tengah menatap syahdu pigura foto yang telah diambilnya kembali. Ada senyum di bibir mungilnya kala ia memandanginya. Senyum yang terlalu samar untuk bisa disebut sebagai sebuah senyum, tapi aku tahu pasti kalau itu adalah senyum tulus yang muncul di bibirnya untuk pertama kalinya semenjak aku meninggalkan ikatan yang disebut ‘keluarga’ dengan dirinya dan ibunya.

Realisasi datang menyerang tiba-tiba ke pikiranku. Benar. Ini adalah senyum tulus pertamanya. Walaupun samar, tapi senyum ini jauh lebih tulus dibanding tawa lepas membahana yang selama ini terasa palsu di telingaku. Bagaimana selama ini aku tidak bisa menyadarinya? Atau jangan-jangan sebenarnya aku sudah menyadarinya namun diam-diam menutup hatiku sendiri dari kenyataan?

“Apa kau sedih… saat Papa dan Mama tinggal di tempat yang berbeda?” tanyaku hati-hati sambil terus menatap gadis kecilku yang masih asyik bernostalgia dengan foto keluarga kami yang dulu. Aku berusaha keras untuk tak menggunakan kata ‘bercerai’ Gadis kecil itu kembali menoleh padaku, matanya kembali hampa.

Ia menggeleng. “Bukan karena tinggal di tempat yang beda. Tapi karena Papa dan Mama bukan lagi Papa dan Mama yang dulu. Yang selalu senyum saat kita main bersama. Papa dan Mama sekarang senyum tapi tidak senyum. Karena itu aku juga senyum tapi tidak senyum.”

Aku tercengang saat gadis kecilku menjelaskan maksudnya dengan bahasa khas anak-anak yang bagiku maknanya sama sekali tak wajar berada di bibir anak-anak. Senyum tapi tidak senyum? Itukah yang ia maksud dengan senyum dan tawa palsu yang selama ini kudengar? Ia melakukan itu karena melihat tingkahku dan ibunya yang tanpa sadar juga mengeluarkan senyum palsu padanya dan juga satu sama lain?

“Kau sedih saat Papa dan Mama melakukannya?” aku meraih gadis kecilku dan mendudukkannya di pangkuanku. Ia bergelung defensif di pangkuanku, entah kenapa.

Gadisku mengangguk. “Rasanya seperti tidak punya siapa-siapa. Karena sudah bukan yang dulu lagi.”

Batinku teriris. Aku memeluknya erat sambil memejamkan kedua mataku dan menggigit bibir bawahku. “Ya. Kita bukan yang dulu lagi.”

“Aku marah.” Sikap defensifnya makin meningkat, dan sekarang tubuhnya mulai bergetar daam pelukanku.

Aku mengangguk, berusaha keras membuatnya rileks. “Kau berhak marah.”

Kali ini suara isakan mulai muncul berkala dan terasa memilukan terdengar dari dalam tenggorokannya. Terasa sekali bahwa ia sudah terlalu lama ingin menangis tapi entah karena alasan apa hingga ia memutuskan untuk menahannya. “Kalau gitu aku akan marah selamanya.”

Aku memeluknya makin erat, bahkan mulai memasuki level aku bisa meremukkan tulang-tulang rapuh putriku. Mataku panas, tapi tak ada cairan apa pun yang keluar. “Maukah kau memaafkan Papa?”

“Kalau aku maafkan, kita akan kembali seperti dulu?” gadisku mencicit ironis.

Aku menggigit bibir bawahku makin keras, mungkin sebentar lagi akan berdarah. Pikiran tentang aku melukai mental putriku mulai menggerogoti seluruh rongga tubuhku terus memakan jiwaku. Aku telah terlalu melukainya karena keegoisan manusia dewasa yang bernama cinta. Aku makin tak bisa bicara, apalagi karena sekarang ia menatapku dengan mata hitamnya yang membulat besar penuh harapan baru. “Tidak. Maafkan Papa. Tapi tolong maafkan Papa karena tanpa sadar telah membuatmu sakit. Papa tidak tahu kalau kamu akan sesedih ini. Kau mau memaafkan Papa?”

Seketika ia beringsut melepaskan diri dari pelukanku dan berdiri tegak di hadapanku yang mungkin wajahnya terlalu kusut untuk ukuran seorang ayah. Mata hitamnya kembali hampa dan tanpa ekspresi. Tak ada kilatan kehidupan yang kembali muncul di matanya. Sikapnya tetap santun dengan kedua tangan tersembunyi di balik punggung.

Dengan mulutnya yang membentuk sebuah garis tipis, ia mengucapkan kata terakhirnya, konklusi dari semua penderitaannya selama ini, dan juga jawaban dari permintaan maafku.

“Selamat malam.” Itu yang keluar dari mulutnya sebelum akhirnya ia merangkak naik ke tempat tidur dan berlayar ke lautan mimpi, tetap dengan ekspresi hampanya yang kini semakin terasa menusuk-nusuk jantungku lebih sakit daripada pisau buatan neraka terpanas.

Selamat malam. Sekarang aku mengerti kenapa ia terus mengucapkan kalimat itu. Berbeda dengan selamat tinggal yang berarti berpisah namun tak melupakan semua yang terjadi di masa lalu, selamat malam mempunyai arti yang sama dengan mengucapkan selamat tinggal pada waktu yang takkan bisa diputar kembali bagaimanapun cara kita menginginkannya. Seperti malam yang merupakan akhir dari sebuah hari yang takkan bisa terulang untuk kedua kalinya, keluarga kami pun takkan pernah bisa kembali seperti dulu lagi. Dan aku menyadari, selamat malam mempunyai arti yang jauh lebih mengerikan dibanding selamat tinggal.

Mungkin selamanya ia akan terus mengucapkan selamat malam. Dan itu sepenuhnya karena keegoisan manusia dewasa yang telah mengira bahwa ia akan baik-baik saja setelah apa yang terjadi, kesalahanku. Semua ini karena aku terlalu terbuai dalam keegoisanku yang membuatku merasa menanggung semua beban dunia hingga tanpa sadar aku telah melupakan keberadaan orang-orang yang sebenarnya teramat penting bagiku.

Maafkan aku. Aku tak pernah bermaksud menyakiti gadis kecilku.

 

END

 

A/N:

Didedikasikan untuk anak-anak yang menjadi korban perceraian tanpa diberi kesempatan untuk berbicara. Dan juga bagi para orang tua yang mengira anak-anak tak punya andil dalam keputusan yang mereka buat. Padahal sebenarnya yang menjadi korban nyata dari suatu perceraian adalah anak-anak…

Seperti biasa, mohon reviewnya, yaaa…

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.